KKP Apresiasi Inovasi Pengembangan Perikanan dan Budidaya

 

 

SLEMAN – Kabupaten Sleman mendapat apresiasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atas berbagai inovasi dalam pengembangan sektor pertanian dan perikanan. Apresiasi tersebut diberikan karena sejumlah program dan kegiatan yang dikembangkan di wilayah Sleman dinilai mampu menjadi contoh penerapan inovasi dalam meningkatkan kualitas serta produksi perikanan.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP), Kusdiantoro, dalam kegiatan Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda KTNA) 2019 di Pakem, Sleman, pada Selasa.

Siswa SMAN 1 Taman Belajar Kewirausahaan Perikanan di P2MKP

Mina Ngremboko Menjadi Contoh Pengembangan Budidaya Perikanan

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Mina Ngremboko yang berada di Bokesan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu contoh pengembangan kegiatan perikanan yang telah dikenal hingga tingkat nasional.

Kusdiantoro menjelaskan bahwa Mina Ngremboko telah berkembang menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Perkembangan perikanan menunjukkan bahwa kawasan budidaya perikanan tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran dan penyebaran pengetahuan bagi masyarakat.

“Jadi dari banyak wilayah saat ini sudah banyak yang berlatih kegiatan budidaya dan pengolahan di Mina Ngremboko,” katanya.

Keberadaan P2MKP Mina Ngremboko memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai daerah untuk mempelajari kegiatan budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Melalui kegiatan pelatihan tersebut, pengetahuan dan pengalaman yang berkembang di kawasan ini dapat dibagikan kepada pelaku usaha perikanan lainnya.

Dengan demikian, Mina Ngremboko tidak hanya dikenal melalui aktivitas budidayanya, tetapi juga melalui perannya sebagai tempat pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan.

Kampung Nila Dorong Penerapan Hasil Riset kepada Masyarakat

Selain Mina Ngremboko, Kusdiantoro juga menyebut Kampung Nila sebagai salah satu inovasi yang mendapat perhatian. Program tersebut dicanangkan sebagai desa inovasi dengan memperkenalkan hasil-hasil riset mengenai ikan nila kepada masyarakat.

Melalui program Kampung Nila, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan di lingkungan akademis atau lembaga penelitian. Informasi dan teknologi yang dihasilkan perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar dapat dipahami serta diterapkan secara langsung dalam kegiatan budidaya.

Penerapan hasil riset tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya meningkatkan kualitas dan produksi ikan nila. Dengan pemanfaatan pengetahuan yang sesuai, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengembangkan kegiatan usaha berdasarkan informasi dan teknologi yang telah diperkenalkan.

Kampung Nila dan Mina Ngremboko menjadi dua contoh pendekatan pengembangan perikanan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Mina Ngremboko memperlihatkan peran kawasan budidaya sekaligus pusat pelatihan, sedangkan Kampung Nila menekankan pengenalan dan penerapan hasil riset kepada masyarakat.

Inovasi Sleman Menjadi Rujukan Pengembangan Perikanan

Menurut Kusdiantoro, berbagai inovasi yang berkembang di Kabupaten Sleman telah menjadi rujukan dan proyek percontohan atau pilot project bagi wilayah lain di Indonesia. Sejumlah pendekatan tersebut mulai diterapkan di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan produksi ikan.

Pengembangan inovasi perikanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pertanian dan perikanan.

Kusdiantoro menjelaskan bahwa Kabupaten Sleman memiliki sejumlah modal penting dalam mengembangkan sektor tersebut. Pertama, terdapat visi yang jelas dalam mengarahkan masyarakat pada kegiatan pertanian dan perikanan. Kedua, masyarakat telah memiliki minat dan ketertarikan terhadap kedua bidang tersebut.

Ketiga, masyarakat telah melakukan tindakan nyata melalui penerapan berbagai kegiatan, bukan hanya berhenti pada pembahasan teori. Keempat, terdapat kolaborasi yang mendukung pelaksanaan berbagai inovasi.

“Ketiga sudah action bukan lagi teoritis tapi sudah menerapkan, contohnya sudah ada. Dan terakhir sudah melakukan kolaborasi,” katanya.

Empat hal tersebut menggambarkan pentingnya keterkaitan antara arah pembangunan, partisipasi masyarakat, penerapan inovasi, dan kerja sama berbagai pihak. Pengembangan sektor perikanan membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus dukungan dari pemerintah, lembaga penelitian, dan pihak terkait lainnya.

Selain itu, diselenggarakan pula Temu Usaha Pertanian, Pangan, Perikanan dan Kehutanan. Berbagai perlombaan turut menjadi bagian dari kegiatan, antara lain Lomba Stand Pameran, Lomba Kreasi Taman Sayur Mini, serta Lomba Gelar Karya atau Temu Teknologi.

Kegiatan lainnya mencakup display teknologi produksi pertanian, pangan, dan perikanan serta Lantip Trengginas KTNA DIY. Peserta juga mengikuti kegiatan luar ruang, seperti outbound kesadaran lingkungan dan keakraban, festival dan lomba kesenian, Festival Memedi Sawah, kerja bakti, senam sehat massal, serta penanaman tanaman penghijauan.

Tingkat Kelangsungan Hidup Lele Sangkuriang di P2MKP

 

 

Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan yang telah lama dibudidayakan masyarakat. Kecepatan pertumbuhannya dan kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan menjadi beberapa alasan ikan ini banyak dikembangkan dalam kegiatan perikanan budidaya. Salah satu jenis yang dibudidayakan adalah lele Sangkuriang.

Dalam kegiatan budidaya lele, keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh proses pembesaran hingga masa panen. Tahap pendederan juga memiliki peran penting karena pada fase ini benih ikan masih rentan mengalami kematian. Oleh sebab itu, pengelolaan pendederan perlu mendapat perhatian agar benih dapat tumbuh dan bertahan hidup hingga memasuki tahap pemeliharaan berikutnya.

Pelajari Selanjutnya : KKP Apresiasi Inovasi Pengembangan Perikanan dan Budidaya

Budidaya Lele Sangkuriang dan Potensi Pengembangannya

Lele Sangkuriang menjadi salah satu komoditas yang menarik untuk dikembangkan dalam usaha perikanan budidaya. Ikan ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Selain itu, kandungan gizinya, siklus hidup yang relatif singkat, serta permintaan pasar yang terus meningkat menjadikannya komoditas yang banyak dibudidayakan.

Secara umum, kegiatan budidaya lele terdiri atas beberapa tahapan, yaitu pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Setiap tahapan memiliki tujuan dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Pembenihan berkaitan dengan penyediaan benih, pendederan berfokus pada pemeliharaan benih agar tumbuh, sedangkan pembesaran dilakukan untuk menghasilkan ikan sesuai ukuran yang dibutuhkan pasar.

Di antara tahapan tersebut, pendederan merupakan fase yang perlu diperhatikan secara khusus. Benih lele yang masih berukuran kecil memiliki kerentanan terhadap perubahan lingkungan, serangan penyakit, serta pengelolaan pakan yang kurang tepat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah benih yang mampu bertahan selama pemeliharaan.

Karena itu, proses pendederan membutuhkan pengelolaan yang terarah. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini meliputi kualitas air, kepadatan tebar, jenis pakan, dan manajemen pemeliharaan. Aspek-aspek tersebut merupakan bagian penting dalam menciptakan kondisi pemeliharaan yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih.

Pendederan sebagai Tahap Kritis Pemeliharaan

Pendederan merupakan tahap penting dalam rangkaian produksi budidaya lele. Pada fase ini, benih dipelihara agar mengalami pertumbuhan sebelum dipindahkan ke tahap pembesaran. Keberhasilan pendederan dapat dilihat antara lain dari jumlah ikan yang mampu bertahan hidup sampai akhir masa pemeliharaan.

Tingkat kelangsungan hidup atau survival rate merupakan persentase jumlah ikan yang masih hidup pada akhir pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah ikan yang ditebar pada awal kegiatan. Parameter ini digunakan untuk menggambarkan tingkat keberhasilan pemeliharaan dari sisi kemampuan ikan bertahan hidup.

Dalam penelitian di P2MKP Aquaculture Farm Kabupaten Tebo, jumlah benih yang ditebar tercatat sebanyak 30.100 ekor. Jumlah tersebut menjadi populasi awal dalam kegiatan pendederan yang diamati.

Pengelolaan jumlah benih yang ditebar perlu dilakukan secara cermat. Kepadatan tebar menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi lingkungan pemeliharaan dan pengelolaan ikan. Selain itu, kualitas air, pemberian pakan, serta pemantauan kondisi benih juga merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan yang tidak dapat diabaikan.

Penelitian terhadap tingkat kelangsungan hidup menjadi penting karena dapat memberikan informasi mengenai hasil pemeliharaan selama fase pendederan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memahami kondisi produksi dan menentukan aspek pengelolaan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Pengamatan Pertumbuhan Benih Lele Sangkuriang

Selain mengamati tingkat kelangsungan hidup, penelitian ini juga memperhatikan pertumbuhan benih lele Sangkuriang. Pertumbuhan merupakan perubahan ukuran tubuh ikan, baik berat, panjang, maupun volume dalam kurun waktu tertentu.

Pengamatan pertumbuhan dan panjang benih dilakukan setiap satu minggu selama masa pemeliharaan. Sampel yang digunakan dalam pengamatan berjumlah 30 ekor benih ikan lele. Pengukuran panjang dilakukan menggunakan penggaris, sedangkan pengukuran bobot dilakukan dengan bantuan timbangan digital.

Pengamatan secara berkala tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan ukuran benih selama pemeliharaan. Data panjang dan bobot menjadi parameter yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan pertumbuhan ikan.

Dalam kegiatan penebaran, jumlah benih yang digunakan tercatat sebanyak 30.100 ekor. Proses penghitungan dilakukan melalui penimbangan benih dan pengalian hasilnya dengan faktor empat untuk memperoleh perkiraan jumlah 1.000 ekor, kemudian pengulangan dilakukan hingga diperoleh jumlah benih yang akan ditebar.

Berdasarkan hasil penelitian yang tersedia, pertumbuhan bobot mutlak lele Sangkuriang mencapai 0,83 gram, sedangkan pertumbuhan panjang mutlak mencapai 5,60 sentimeter. Kedua angka tersebut merupakan hasil pengamatan pertumbuhan selama masa pemeliharaan yang dilaporkan dalam penelitian.

P2MKP IPSA Bali Gelar Webinar Teknologi Fermentasi

BALI – Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Institusi Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali kembali menyelenggarakan kegiatan webinar dengan mengusung tema teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas wawasan dan pengetahuan pelaku usaha perikanan mengenai pemanfaatan teknologi fermentasi dalam kegiatan budidaya.

Webinar tersebut menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi industri dan akademisi. Melalui kegiatan berbasis daring ini, peserta diharapkan memperoleh tambahan informasi mengenai teknologi fermentasi serta penerapannya dalam bidang perikanan.

Teknologi fermentasi menjadi salah satu topik yang menarik untuk dibahas dalam kegiatan budidaya perikanan. Pembahasan mengenai teknologi ini dapat memberikan wawasan bagi pelaku usaha yang sehari-hari berkegiatan dengan air dan ikan, terutama dalam memahami berbagai pendekatan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan usaha budidaya.

Pahami Lebih Lanjut : Tingkat Kelangsungan Hidup Lele Sangkuriang di P2MKP

Hadirkan Narasumber dari Praktisi dan Akademisi

Dalam kegiatan webinar tersebut, salah satu narasumber yang disebutkan adalah Irkham Rosidi, Kepala Pemasaran PT Songgolangit Persada Cabang Bali. Kehadiran narasumber dari kalangan praktisi industri diharapkan dapat memberikan sudut pandang mengenai pemanfaatan teknologi fermentasi dalam kegiatan usaha.

Selain itu, webinar juga menghadirkan dosen Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Keterlibatan akademisi dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan pelaku usaha perikanan.

Perpaduan perspektif praktisi dan akademisi dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan bagi peserta. Praktisi dapat memberikan gambaran dari sisi kegiatan usaha, sedangkan akademisi dapat memperkaya pembahasan melalui pendekatan keilmuan di bidang akuakultur.

Dengan menghadirkan narasumber dari latar belakang yang berbeda, webinar ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai topik teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan.

Memperluas Wawasan Pelaku Usaha Budidaya Perikanan

Kegiatan webinar yang diselenggarakan P2MKP IPSA Bali ditujukan untuk memberikan manfaat bagi pelaku usaha budidaya perikanan maupun pihak yang dalam aktivitas sehari-harinya berhubungan dengan air dan ikan.

Melalui forum diskusi daring, peserta memiliki kesempatan untuk memperoleh informasi tanpa harus hadir secara langsung di lokasi penyelenggara. Model kegiatan seperti ini juga memungkinkan penyebaran pengetahuan kepada pelaku usaha yang berada di berbagai tempat.

Pembahasan teknologi fermentasi diharapkan dapat menambah wawasan peserta dalam mengenali perkembangan teknologi yang berkaitan dengan kegiatan budidaya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami berbagai kemungkinan penerapan teknologi dalam pengelolaan usaha perikanan.

Bagi pelaku usaha, peningkatan pengetahuan merupakan salah satu bagian penting dalam mengembangkan kegiatan budidaya. Pemahaman terhadap teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan dapat membantu mereka mengikuti dinamika sektor perikanan serta mempertimbangkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan usaha masing-masing.

P2MKP IPSA Bali Dorong Pengembangan Pengetahuan Perikanan

Penyelenggaraan webinar teknologi fermentasi ini menjadi bagian dari kegiatan P2MKP IPSA Bali dalam menyediakan ruang pembelajaran bagi masyarakat perikanan. Kegiatan pelatihan dan berbagi pengetahuan merupakan sarana untuk mempertemukan pelaku usaha, praktisi, dan akademisi dalam membahas berbagai topik yang relevan dengan pengembangan sektor perikanan.

Melalui kegiatan tersebut, P2MKP IPSA Bali turut membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengenal perkembangan teknologi yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjalankan kegiatan budidaya.

Webinar dengan tema teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi peserta. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk terus belajar dan memahami perkembangan teknologi dalam kegiatan usaha perikanan.

Dengan menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi, kegiatan ini menjadi ruang pertukaran informasi yang mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat perikanan. P2MKP IPSA Bali diharapkan dapat terus berperan dalam mendorong kegiatan pembelajaran dan pengembangan kapasitas pelaku usaha budidaya perikanan.

Teknologi Fermentasi untuk Budidaya Perikanan” untuk membahas efisiensi biaya pakan yang mencakup 60–80% dari total biaya produksi. Kegiatan ini memaparkan penggunaan teknologi fermentasi EM4 guna melembutkan tekstur pakan, mempercepat penyerapan protein, dan meningkatkan kualitas hasil budidaya ikan

Webinar digelar P2MKP IPSA BALI diharapkan dapat berguna bagi peserta mengenai teknologi fermentasi untuk budidaya ikan perikanan. Webinar diakhiri dengan sesi Tanya jawab, dan seluruh peserta mendapatkan E Sertifikat, beberapa peserta beruntung mendapatkan marchandise dari penyelenggara.

DKPP Agam Gelar Pelatihan Teknis Budidaya Ikan bagi Pokdakan

   

AGAM – Dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya ikan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP). Kabupaten Agam menyelenggarakan kegiatan Temu Lapang/Pembekalan Teknis bagi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Penerima paket bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 15 Agustus 2024, bertempat di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Sangkuriang Jaya Agam, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang. Pelatihan diikuti oleh 20 pembudidaya ikan yang berasal dari tiga kelompok pembudidaya ikan.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain memperoleh bantuan fasilitas, kelompok penerima juga perlu memiliki pengetahuan teknis. Kemampuan pengelolaan kelompok agar kegiatan budidaya dapat berjalan dengan baik.

Baca Selengkapnya :  P2MKP IPSA Bali Gelar Webinar Teknologi Fermentasi

Pembukaan Dihadiri Unsur Pemerintah dan Penyuluh Perikanan

Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam beserta jajaran Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap. Hadir pula Camat Tilatang Kamang, para wali nagari se-Kecamatan Tilatang Kamang, serta seluruh penyuluh perikanan wilayah Agam bagian Timur.

Kehadiran unsur pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, dan penyuluh perikanan. Ini menunjukkan dukungan terhadap pengembangan kegiatan budidaya ikan Agam. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar program bantuan yang diberikan tidak hanya berhenti pada penyerahan sarana dan prasarana, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi kelompok penerima.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pembekalan teknis. Materi disampaikan oleh tiga narasumber yang memiliki latar belakang dan bidang keahlian berbeda, sehingga peserta mendapatkan pembekalan dari sisi teknis budidaya, pemahaman petunjuk pelaksanaan bantuan, hingga pengelolaan kelembagaan kelompok.

Narasumber pertama adalah Doni Afdison, S.Pi., selaku Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap DKPP Kabupaten Agam. Ia menyampaikan materi mengenai penjelasan petunjuk teknis kepada kelompok penerima paket bantuan budidaya.

Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai petunjuk teknis yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan bantuan sarana dan prasarana. Pemahaman terhadap ketentuan bantuan menjadi hal penting agar fasilitas yang diterima dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya.

Kepala DKPP Agam Tekankan Pemanfaatan Bantuan DAK

Narasumber kedua, Elfiyanto, S.E., yang merupakan praktisi budidaya sekaligus pengelola P2MKP Sangkuriang Jaya Agam, menyampaikan materi tentang teknis budidaya ikan air tawar. Materi ini berkaitan langsung dengan kegiatan utama para peserta sebagai pembudidaya ikan.

Melalui pembekalan teknis tersebut, peserta memperoleh tambahan pengetahuan mengenai kegiatan budidaya ikan air tawar. Pengetahuan teknis menjadi salah satu bekal yang dibutuhkan kelompok untuk menjalankan usaha budidaya dengan memanfaatkan sarana dan prasarana bantuan secara tepat.

Selanjutnya, Toguan Sihombing, S.Pi., selaku Penyuluh Perikanan Kabupaten Agam, menyampaikan materi mengenai penguatan kelembagaan dan permodalan serta dinamika kelompok. Materi ini menyoroti pentingnya kemampuan kelompok dalam mengelola organisasi, membangun kerja sama antaranggota, dan memahami aspek permodalan.

Ketiga materi tersebut saling melengkapi. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai kegiatan teknis budidaya, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang aturan pemanfaatan bantuan dan penguatan kelompok sebagai wadah pengembangan usaha perikanan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut diberikan kepada Pokdakan yang menerima bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024.

Camat Tilatang Kamang Dukung Pengembangan Pokdakan

Ia berharap kelompok penerima dapat memanfaatkan bantuan yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung kemajuan kelompok. Bantuan sarana dan prasarana tersebut diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pendukung, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kegiatan budidaya ikan di wilayah penerima.

Rosva juga menyampaikan harapan agar bantuan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah, terutama di Kecamatan Tilatang Kamang. Pengembangan kegiatan budidaya ikan dinilai memiliki keterkaitan dengan ketersediaan pangan dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain mendukung ketahanan pangan, program bantuan tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting dan program pengentasan kemiskinan. Dengan pemanfaatan bantuan secara optimal, kelompok pembudidaya diharapkan mampu mengembangkan kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat sekitar.

Senada dengan Kepala DKPP Kabupaten Agam, Camat Tilatang Kamang, Noviardi Ismail, S.Sos., juga menyampaikan harapannya agar masyarakat penerima bantuan dapat mengembangkan fasilitas yang telah diterima.

Menurut harapan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, dukungan pemerintah melalui bantuan sarana dan prasarana perlu diikuti dengan kesungguhan kelompok dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan budidaya.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan memberikan hasil bagi kelompok penerima.

Siswa SMAN 1 Taman Belajar Kewirausahaan Perikanan di P2MKP

 

SIDOARJO – Suasana Sabtu pagi di SMA Negeri 1 Taman (SMANITA) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah siswa kelas XI mengikuti kegiatan pembelajaran di luar sekolah dengan mengunjungi Pusat Pelatihan dan Kemandirian Perikanan (P2MKP) Fish Boster Centre di Sedati, Sidoarjo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema kewirausahaan.

Rombongan siswa mulai berangkat dari SMAN 1 Taman sekitar pukul 07.15 WIB menuju Fish Boster Centre. Sementara itu, sejak pukul 07.00 WIB, sejumlah siswa telah berdatangan di lokasi. Ada yang diantar oleh keluarga, sementara sebagian lainnya datang secara mandiri dengan menggunakan sepeda motor.

Baca Juga : DKPP Agam Gelar Pelatihan Teknis Budidaya Ikan bagi Pokdakan

Mengenal Dunia Usaha Perikanan di Fish Boster Centre

P2MKP Fish Boster Centre merupakan lembaga pelatihan di bidang budidaya ikan air tawar yang berlokasi di Sedati, Sidoarjo. Salah satu bidang yang menjadi perhatian lembaga ini adalah budidaya ikan lele.

Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan siswa SMANITA tiba di lokasi dengan menggunakan sejumlah kendaraan angkutan. Setibanya di pusat pelatihan, para siswa segera menuju halaman tengah dan disambut oleh pemandu atau tour guide Fish Boster Centre.

Kegiatan kunjungan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan pusat pelatihan. Para siswa diajak melakukan observasi terhadap berbagai aktivitas usaha perikanan, mulai dari proses pembibitan ikan, pembesaran, hingga pengolahan hasil perikanan.

Melalui pengamatan langsung tersebut, siswa dapat melihat bahwa usaha perikanan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memelihara ikan sampai siap panen. Di dalamnya terdapat rangkaian proses yang saling berhubungan, mulai dari penyediaan benih, pemeliharaan, pengelolaan pakan, hingga pengolahan hasil menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Selain mengenal budidaya ikan, para siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai cara bertanam menggunakan sistem hidroponik. Mereka diperkenalkan pula dengan akuaponik dan budidamber, yaitu budidaya ikan lele dalam ember. Berbagai metode tersebut memberikan gambaran tentang pemanfaatan lahan dan sumber daya secara lebih praktis.

Belajar Hidroponik, Akuaponik, dan Budidaya Ikan

Salah satu hal yang diperkenalkan dalam kunjungan tersebut adalah keterkaitan antara kegiatan perikanan dan pertanian. Hidroponik menjadi contoh metode bercocok tanam yang tidak menggunakan tanah sebagai media utama, sedangkan akuaponik menggabungkan kegiatan pemeliharaan ikan dengan penanaman sayuran dalam satu sistem.

Para siswa juga dikenalkan dengan budidamber atau budidaya ikan dalam ember. Metode ini memberikan gambaran bahwa kegiatan budidaya ikan dapat dilakukan dalam skala sederhana, termasuk dengan memanfaatkan ruang yang terbatas.

Selain itu, Fish Boster Centre memperkenalkan proses pembibitan ikan lele, nila, dan patin. Para siswa dapat mengamati tahapan usaha perikanan dari sisi pembibitan hingga pembesaran. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari pengenalan rantai kegiatan usaha yang dapat dikembangkan menjadi peluang kewirausahaan.

Aspek lain yang diperkenalkan adalah pembuatan pakan ikan secara mandiri. Pengetahuan mengenai pakan menjadi salah satu bagian penting dalam budidaya karena berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan ikan. Dengan mengenal proses pembuatan pakan, siswa memperoleh wawasan bahwa usaha perikanan juga membutuhkan pemahaman mengenai kebutuhan produksi dan pengelolaan usaha.

Kepala SMA Negeri 1 Taman, Dewi Nurmalasari, M.Pd., turut hadir dalam kegiatan kunjungan tersebut. Ia menyampaikan bahwa banyak pengetahuan yang dapat diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran langsung di Fish Boster Centre.

“Banyak hal yang bisa didapat anak-anak setelah kunjungan di Fish Boster Centre ini. Pengetahuan tentang hidroponik, akuaponik, pembuatan pakan ikan secara mandiri, pembibitan ikan lele, nila dan patin hingga pembesaran serta pengolahannya. Diharapkan setelah kegiatan ini, anak-anak punya bekal selain wawasan juga kemauan untuk menerapkan di rumahnya masing-masing. Walau dalam skala kecil,” urai Dewi Nurmalasari.

Kepala SMAN 1 Taman Berharap Siswa Menerapkan Ilmu

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan kunjungan tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka agar memiliki kemauan untuk mencoba menerapkan ilmu yang diperoleh. Penerapan dalam skala kecil di lingkungan rumah dapat menjadi langkah awal untuk mengenal kegiatan produktif dan membangun jiwa kewirausahaan.

Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa peluang usaha dapat dipelajari dari berbagai bidang, termasuk perikanan dan budidaya tanaman. Pengetahuan yang diperoleh secara langsung juga dapat membantu siswa mengenali proses usaha, kebutuhan kegiatan produksi, serta kemungkinan pengembangan produk.

Kunjungan ke Fish Boster Centre menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual dalam pelaksanaan P5 bertema kewirausahaan. Dengan mendatangi tempat pelatihan dan usaha secara langsung, siswa memperoleh pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.

Mereka tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga melihat proses budidaya dan pengolahan hasil perikanan secara nyata. Pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan mengenai berbagai jenis usaha yang berpotensi dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar.

Pelayanan yang ramah dan bersahabat dari pihak Fish Boster Centre turut mendukung jalannya kegiatan. Dengan tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang, pengunjung dapat memperoleh pengetahuan mengenai usaha perikanan dan cara budidaya sayuran.

Kegiatan ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan. Para siswa SMANITA mendapatkan kesempatan untuk mengenal budidaya ikan, pengolahan hasil perikanan, hidroponik, akuaponik, serta budidamber sebagai bagian dari wawasan usaha produktif.

P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau

 

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menyelenggarakan pelatihan budidaya kepiting bakau yang telah direncanakan sejak awal tahun. Kegiatan tersebut akhirnya dapat terlaksana dengan melibatkan 20 peserta yang berasal dari Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera dan petugas taman nasional.

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya anggota Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera. Program tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengembangkan alternatif mata pencaharian bagi anggota kelompok nelayan yang sebelumnya merupakan pengguna alat tangkap muroami.

Informasi Lebih Lanjut : P2MKP Mina Raya Gelar Pelatihan Pemijahan Ikan Bawal

Potensi Mangrove Pulau Pramuka untuk Budidaya Kepiting Bakau

Wilayah mangrove yang berada di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Pulau Pramuka dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai area budidaya kepiting bakau. Keberadaan ekosistem mangrove menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kegiatan pembesaran kepiting Bakau di kawasan tersebut.

Sebelum kegiatan budidaya dilaksanakan, dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan kimia air di area mangrove. Pengujian tersebut dilakukan melalui Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sejumlah parameter kualitas air, meliputi tingkat keasaman atau pH, salinitas, suhu, kandungan nitrit dan nitrat, serta bahan organik, telah sesuai dengan baku mutu untuk kegiatan budidaya kepiting.

Hasil tersebut menjadi salah satu dasar yang mendukung pemanfaatan kawasan mangrove sebagai lokasi pengembangan budidaya kepiting bakau. Kesesuaian parameter kualitas air merupakan aspek yang perlu diperhatikan karena kondisi lingkungan perairan berkaitan dengan keberhasilan pemeliharaan kepiting.

Potensi tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat pesisir melalui usaha pembesaran kepiting bakau. Dengan memanfaatkan sumber daya perairan secara terbatas sesuai skema kemitraan konservasi, masyarakat diharapkan dapat memperoleh alternatif penghasilan sekaligus memahami pentingnya pengelolaan kawasan secara bertanggung jawab.

Peserta Pelajari Sistem Aquasilviculture dan Teknik Pembesaran Kepiting

Selain materi pemberdayaan ekonomi, pelatihan juga menghadirkan pakar perikanan dan kelautan yang memberikan pembekalan mengenai teknik budidaya kepiting bakau menggunakan sistem aquasilviculture.

Sistem tersebut menjadi salah satu materi penting dalam pelatihan karena berkaitan dengan pengembangan kegiatan budidaya di kawasan yang memiliki ekosistem mangrove. Peserta diperkenalkan dengan pendekatan budidaya yang mengintegrasikan kegiatan perikanan dan lingkungan mangrove.

Antusiasme peserta semakin meningkat ketika memasuki sesi praktik budidaya. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari metode konvensional pembesaran kepiting, termasuk pemberian pakan dan penghitungan bobot kepiting.

Praktik pemberian pakan menjadi bagian dari kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan secara teratur. Peserta juga diperkenalkan dengan cara memperhatikan bobot kepiting sebagai salah satu aspek dalam memantau perkembangan selama masa pembesaran.

Pengetahuan mengenai teknik pemeliharaan tersebut diharapkan dapat membantu nelayan memahami tahapan budidaya secara lebih baik. Dengan menggabungkan materi teori dan praktik, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenali proses pembesaran kepiting secara langsung.

Sebagai hasil kegiatan pelatihan, dibentuk demplot budidaya yang berisi 200 ekor kepiting bakau berusia sekitar 30–40 hari. Demplot tersebut selanjutnya akan dipelihara oleh para nelayan melalui sistem piket.

Pemberian pakan direncanakan berlangsung selama kurang lebih dua bulan hingga kepiting bakau mencapai ukuran siap panen. Selama masa pemeliharaan, peserta perlu memperhatikan kondisi kepiting dan menjalankan kegiatan pemberian pakan sesuai kebutuhan budidaya.

Selain pemberian pakan, pencatatan jumlah kepiting yang mengalami kematian juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan demplot. Setiap kematian kepiting harus dicatat secara cermat pada blanko yang telah disediakan.

Pelatihan Tingkatkan Kapasitas dan Produktivitas Nelayan

Program pelatihan penerapan budidaya kepiting bakau ini dilaporkan berhasil meningkatkan kapasitas peserta secara signifikan. Peningkatan tersebut tercermin dari kompetensi teknis peserta dalam berbagai aspek materi pelatihan.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat mendukung kemampuan nelayan dalam menjalankan budidaya secara lebih terarah. Materi mengenai sistem aquasilviculture, pemberian pakan, penghitungan bobot, serta pencatatan kematian menjadi bekal dalam pengelolaan usaha pembesaran kepiting.

Dampak ekonomi yang dilaporkan juga terlihat dari peningkatan pendapatan anggota kelompok yang mencapai sembilan kali lipat. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan terciptanya nilai tambah melalui perbaikan kualitas produk dan perencanaan produksi yang lebih baik.

Capaian tersebut menjadi gambaran potensi budidaya kepiting bakau sebagai alternatif kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Melalui peningkatan keterampilan teknis, pengelolaan produksi, dan pemanfaatan sumber daya perairan secara terbatas, kelompok nelayan memiliki kesempatan untuk mengembangkan sumber pendapatan baru.

Pengembangan budidaya kepiting bakau diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya perairan yang sesuai dengan ketentuan kemitraan konservasi.

Kapuslatluh KP Tinjau P2MKP Karya Lestari Tetap Eksis

 

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Kapuslatluh KP). Lily Aprilya Pregiwati, melakukan kunjungan ke Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Karya Lestari di Tabanan, Bali, pada Sabtu, 12 Desember 2020. Kunjungan tersebut dilakukan untuk tinjau P2MKP bahwa masih menjadi bagian dari binaan Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan lembaga pelatihan mandiri tersebut.

Termasuk berbagai kegiatan yang masih dilaksanakan dan hambatan yang dihadapi. Keberlangsungan P2MKP menjadi perhatian karena lembaga tersebut memiliki peran dalam mendukung peningkatan keterampilan masyarakat, khususnya di bidang pengolahan hasil perikanan.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau

Kapuslatluh KP Dorong P2MKP Terus Mempertahankan Eksistensi

Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui lembaga mana saja yang masih eksis dan dapat dikukuhkan kembali. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan P2MKP sebagai lembaga pelatihan mandiri di bidang kelautan dan perikanan.

Melalui kunjungan tersebut, Kapuslatluh KP ingin mengetahui secara langsung berbagai kondisi yang dihadapi P2MKP. Informasi mengenai kendala di lapangan diperlukan agar pihak terkait dapat melihat bentuk dukungan yang memungkinkan diberikan untuk membantu lembaga tetap berkembang.

Harapan agar P2MKP Karya Lestari dapat mempertahankan eksistensinya juga menunjukkan pentingnya kesinambungan kegiatan pelatihan. Keberadaan lembaga yang tetap aktif diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang bergerak dalam pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Pendampingan tersebut juga berkaitan dengan pengembangan kelompok pengolahan dan pemasaran hasil perikanan atau Poklahsar. Kelompok ini menjadi salah satu unsur masyarakat yang bergerak dalam mengolah serta memasarkan produk hasil perikanan.

Dengan dukungan penyuluh, kelompok pengolahan dan pemasaran diharapkan dapat memperoleh pendampingan dalam mengembangkan produk. Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas produk serta penguatan pemasaran agar hasil olahan perikanan memiliki peluang untuk berkembang.

Dalam laporan kepada Kapuslatluh KP, Ketua P2MKP Karya Lestari, Ni Made Putriningsih Mirna, menyampaikan sejarah berdirinya lembaga tersebut. P2MKP Karya Lestari mulai berdiri pada 2012, yang diawali dari pembentukan Kelompok Pengolahan dan Pemasaran (Poklahsar) Karya Lestari pada 2010.

Menghasilkan Beragam Produk Olahan Perikanan

Pembentukan kelompok tersebut menjadi langkah awal dalam mengembangkan kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Seiring berjalannya waktu, kegiatan kelompok berkembang hingga kemudian menjadi bagian dari pembentukan P2MKP Karya Lestari.

Keberadaan P2MKP Karya Lestari menjadi wadah bagi kegiatan pelatihan pengolahan hasil perikanan.

Melalui lembaga ini, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai pengolahan berbagai jenis bahan baku perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Produk yang dihasilkan Poklahsar Karya Lestari meliputi nugget, bakso, siomay, keong mas, kerupuk kulit ikan, stik, abon, teriwijen, keripik gurih, kaki naga, koktail, dan jus rumput laut.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan kegiatan pengolahan hasil perikanan yang dikembangkan oleh kelompok. Bahan baku perikanan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan dengan bentuk dan karakteristik yang berbeda.

Pengembangan produk olahan juga menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Melalui proses pengolahan, bahan baku dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki bentuk penyajian lebih beragam dan dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari wilayah Tabanan, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan yang diselenggarakan P2MKP Karya Lestari telah menjangkau masyarakat dari berbagai wilayah.

Kunjungan Menjadi Dorongan bagi Keberlanjutan P2MKP Karya Lestari

Kunjungan Kapuslatluh KP, selain memastikan eksistensi lembaga, kunjungan tersebut juga menjadi sarana untuk mengetahui kendala yang dihadapi serta perkembangan kegiatan pengolahan hasil perikanan.

Keberadaan P2MKP Karya Lestari yang telah berkembang sejak pembentukan Poklahsar pada 2010 hingga menjadi P2MKP pada 2012 memperlihatkan kesinambungan kegiatan kelompok dalam bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Dengan 12 jenis produk yang dihasilkan serta pengalaman melatih ribuan peserta dari Tabanan dan berbagai daerah di Bali, Karya Lestari memiliki peran dalam mendukung peningkatan keterampilan masyarakat di sektor perikanan.

Harapan Kapuslatluh KP agar P2MKP Karya Lestari terus mempertahankan eksistensi dan berkembang ke depan menjadi dorongan bagi keberlanjutan lembaga tersebut.

Dukungan terhadap P2MKP, pendampingan penyuluh perikanan, serta pengembangan produk Poklahsar diharapkan dapat memperkuat kegiatan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kelautan dan perikanan.

P2MKP Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar Fish Boster Centre

 

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo menyelenggarakan pelatihan teknis budidaya ikan air tawar di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Fish Boster Centre, Sidoarjo, pada 23–25 Juli 2024. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Pelatihan ini diikuti oleh pendamping teknis dan para pembudidaya ikan. Kegiatan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta dalam mengelola usaha budidaya ikan air tawar, mulai dari persiapan kolam, pemeliharaan ikan, pengelolaan pakan, hingga penanganan hasil panen.

Telusuri Selengkapnya : Kapuslatluh KP Tinjau P2MKP Karya Lestari Tetap Eksis

Hari Pertama: Pembukaan dan Penyampaian Materi Budidaya Ikan

Pelatihan dimulai pada Selasa. Kegiatan hari pertama diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo serta sambutan Direktur PT Indosco Dwi Jaya Sakti sebagai perwakilan dari Fish Boster Centre.

Ia berharap ilmu dan keterampilan yang didapatkan selama pelatihan dapat mendukung perkembangan usaha budidaya ikan di daerah tersebut. Dengan demikian, kegiatan pelatihan tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian sejumlah materi teknis. Materi pertama membahas budidaya ikan lele dengan sistem yang disampaikan oleh Akhmad Fauzan Arifin, Teknisi Budidaya Ikan Air Tawar P2MKP Fish Boster Centre.

Hari Kedua: Praktik Pengelolaan Kolam dan Kualitas Air

Memasuki hari kedua, Pelatihan difokuskan pada kegiatan praktik langsung. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai tahapan teknis yang berkaitan dengan pengelolaan media budidaya dan pemeliharaan ikan.

Praktik yang dilakukan meliputi pembuatan fermentasi, persiapan kolam, manajemen pemberian pakan ikan, serta pengelolaan kualitas air. Materi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan budidaya karena kondisi kolam dan kualitas air berkaitan dengan lingkungan tempat ikan dipelihara.

Persiapan kolam merupakan salah satu tahapan awal yang perlu diperhatikan sebelum kegiatan budidaya dimulai. Peserta mempelajari proses persiapan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan kondisi media pemeliharaan yang sesuai untuk ikan.

Selain itu, manajemen pakan juga menjadi perhatian dalam praktik hari kedua. Pemberian pakan merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan yang perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan ikan selama masa pertumbuhan dapat diperhatikan.

Pada hari kedua, peserta juga mengikuti proses grading dan panen. Kegiatan grading dilakukan untuk membantu memastikan keseragaman ukuran ikan, sedangkan praktik panen memberikan pengalaman mengenai tahapan akhir dalam proses produksi budidaya.

Melalui rangkaian praktik tersebut, peserta dapat mengenali berbagai kegiatan teknis yang diperlukan dalam pengelolaan usaha perikanan air tawar.

Hari Ketiga: Praktik Penebaran Benih dan Pengolahan Hasil Perikanan

Praktik penebaran fermentasi dilakukan sebagai bagian dari persiapan air kolam sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya. Peserta juga mempelajari proses aklimatisasi sebelum penebaran bibit ikan. Tahapan ini menjadi bagian dari pengenalan prosedur penebaran benih agar peserta memahami proses penyesuaian ikan terhadap kondisi lingkungan kolam.

Selain praktik budidaya, peserta mendapatkan pengalaman mengenai pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan fillet ikan lele. Materi ini memperkenalkan aspek pascapanen sebagai bagian dari rangkaian kegiatan perikanan.

Pengolahan fillet menjadi salah satu materi yang melengkapi pembelajaran peserta. Dengan adanya materi tersebut, pelatihan tidak hanya membahas proses pemeliharaan ikan sampai panen, tetapi juga memperkenalkan pengolahan hasil setelah ikan dipanen.

Rangkaian praktik pada hari ketiga dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai berbagai tahapan kegiatan budidaya ikan air tawar. Mulai dari persiapan media pemeliharaan, penebaran benih, proses budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan.

Materi mengenai budidaya ikan lele dan nila, pembuatan pakan mandiri, pengendalian hama dan penyakit, serta pengelolaan kualitas air menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan kegiatan usaha perikanan. Sementara itu, praktik persiapan kolam, grading, panen, dan penebaran benih memberikan pengalaman langsung mengenai tahapan teknis budidaya.

Melalui penyelenggaraan pelatihan di P2MKP Fish Boster Centre, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo berharap para pembudidaya dapat mengembangkan usaha secara lebih baik dan produktif.

Pada akhirnya, peningkatan kemampuan sumber daya manusia di sektor perikanan diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya di Kota Probolinggo. Upaya tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap ketersediaan pangan, penguatan ketahanan pangan, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

P2MKP Karya Lestari Latih Pegawai Olah Frozen Food

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Karya Lestari, Tabanan, memberikan pelatihan kepada peserta Workshop Pembekalan Masa Purnabakti Entrepreneurship Bisnis Usaha Aneka Produk Frozen Food berbahan baku ikan. Kegiatan ini merupakan bentuk pembekalan keterampilan kewirausahaan bagi para pegawai yang akan memasuki masa pensiun agar memiliki pengetahuan dan alternatif usaha produktif setelah purnabakti.

Pelatihan dilaksanakan melalui dua sesi pembelajaran, yaitu pembekalan teori dan praktik secara langsung. Pembekalan teori berlangsung di Hotel Primebiz, Kuta, sebagaimana tercantum dalam informasi kegiatan. Sementara itu, kegiatan praktik dilaksanakan di sekretariat dan bangsal pengolahan P2MKP Karya Lestari, Tabanan.

Baca Juga : P2MKP Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar Fish Boster Centre

Materi Teori Membahas Peluang Bisnis Frozen Food

Pada sesi teori, peserta mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan dengan persiapan masa pensiun dan peluang kewirausahaan. Materi yang diberikan antara lain tips menjalani masa pensiun yang sehat, produktif, serta memiliki passive income atau pendapatan pasif.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan potensi bisnis frozen food. Pembahasan mencakup hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan ketika seseorang ingin memulai usaha di bidang makanan beku.

Pembekalan tersebut penting agar peserta memiliki gambaran mengenai langkah awal dalam merintis usaha. Memahami potensi bisnis dapat membantu calon pelaku usaha mengenali pilihan produk yang dapat dikembangkan, sekaligus mempertimbangkan kesiapan sebelum memulai kegiatan usaha.

Materi kewirausahaan juga menjadi pelengkap pembelajaran teknis pengolahan ikan. Dengan demikian, peserta tidak hanya diarahkan untuk mampu membuat produk, tetapi juga mulai memahami bahwa keterampilan produksi perlu didukung dengan perencanaan usaha yang sesuai.

Peserta Praktik Membuat Beragam Produk Olahan Ikan

Setelah mendapatkan pembekalan teori, peserta mengikuti praktik langsung di bangsal pengolahan P2MKP Karya Lestari, Tabanan. Pada sesi ini, peserta diajarkan membuat berbagai jenis produk olahan berbahan baku ikan yang dapat dikembangkan menjadi produk frozen food.

Beberapa produk yang menjadi materi praktik di antaranya bakso ikan, siomay ikan, kaki naga, dan takoyaki. Peserta juga memperoleh pengalaman dalam mengolah bahan baku ikan menjadi produk makanan dengan bentuk dan jenis olahan yang beragam.

Selain produk tersebut, kegiatan praktik juga mencakup pengolahan nugget ikan patin. Hal ini terlihat dari kegiatan Ketua P2MKP Karya Lestari, Ni Made Putriningsih Wirna, yang menyampaikan penjelasan mengenai kerja sama pelatihan di sela-sela praktik pengolahan nugget ikan patin.

Tidak hanya olahan ikan, peserta juga diajarkan membuat jus rumput laut. Menurut Putriningsih Wirna, pengolahan jus rumput laut diberikan sebagai materi tambahan atau bonus. Materi tersebut muncul setelah salah seorang peserta menanyakan tentang produk olahan rumput laut pada saat penyampaian teori.

Keterampilan Pengolahan Ikan sebagai Bekal Memulai Usaha

Putriningsih Wirna menegaskan bahwa setelah mengikuti pelatihan di P2MKP Karya Lestari, peserta diharapkan dapat memilih berbagai produk frozen food sebagai alternatif usaha ketika memasuki masa pensiun.

Menurutnya, aneka produk olahan ikan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha. Peserta dapat mempertimbangkan jenis produk yang paling sesuai dengan potensi masing-masing, sehingga tidak harus menjalankan usaha yang sama.

Beberapa pilihan produk yang dapat dikembangkan antara lain nugget, kaki naga, siomay, takoyaki, dan lele frozen. Berbagai produk tersebut dapat menjadi alternatif bagi peserta yang ingin memulai usaha di bidang makanan beku.

Selain menentukan jenis produk, peserta juga diharapkan mampu menghitung dan menganalisis usaha yang akan dipilih. Perhitungan dan analisis diperlukan untuk mempertimbangkan kelayakan serta potensi keuntungan dari usaha frozen food yang akan dijalankan.

Pelaksanaan pelatihan selama empat hari ini menjadi bagian dari kerja sama P2MKP Karya Lestari Tabanan dengan PT MEI Yogyakarta dalam memberikan pembekalan keterampilan pengolahan hasil perikanan. Kepercayaan yang kembali diberikan kepada P2MKP Karya Lestari juga menunjukkan keterlibatan lembaga tersebut dalam kegiatan pelatihan pengolahan ikan.

Melalui kombinasi pembelajaran teori dan praktik, peserta memperoleh pengetahuan mengenai peluang bisnis sekaligus pengalaman mengolah berbagai produk berbahan baku ikan. Materi tersebut diharapkan dapat membantu peserta mempersiapkan pilihan kegiatan produktif setelah memasuki masa purnabakti.

Pelatihan ini juga memperkenalkan beragam bentuk pemanfaatan hasil perikanan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Mulai dari bakso ikan, siomay, kaki naga, takoyaki, nugget ikan patin, hingga produk tambahan berupa jus rumput laut, seluruhnya menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta.

P2MKP Mina Raya Gelar Pelatihan Pemijahan Ikan Bawal

 

 

Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo bersama Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Raya menyelenggarakan pelatihan perikanan dengan fokus pada pelatihan ikan air tawar jenis bawal. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Padukuhan Kaliwaru, Kalasan. Wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan perikanan sekaligus tempat budi daya berbagai jenis ikan air tawar.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi perikanan yang dimiliki masyarakat Kelurahan Sardonoharjo. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pemijahan ikan bawal, mulai dari pemahaman karakteristik ikan hingga praktik pembenihan.

Baca Selanjutnya : P2MKP Karya Lestari Latih Pegawai Olah Frozen Food

Dorong Pengembangan Potensi Perikanan Masyarakat

Dalam sambutannya, Lurah Sardonoharjo yang diwakili oleh Ulu-Ulu Kelurahan Sardonoharjo menyampaikan bahwa pelatihan tersebut diselenggarakan dengan mempertimbangkan potensi perikanan yang masih besar di wilayah Sardonoharjo. Selain itu, peluang pasar ikan bawal dinilai masih cukup baik sehingga dapat dikembangkan sebagai salah satu kegiatan usaha masyarakat.

Menurut perwakilan pemerintah kelurahan, pengembangan budidaya ikan bawal memiliki peluang untuk mendukung peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan teknis agar kelompok pembudidaya dapat mengelola kegiatan perikanan secara lebih terarah.

Penyelenggaraan pelatihan juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo dalam mendukung ketahanan pangan. Hasil perikanan dapat menjadi salah satu sumber pangan yang menyediakan kandungan gizi bagi masyarakat. Dengan demikian, pengembangan sektor perikanan diharapkan turut mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Selain ketahanan pangan, kegiatan ini juga dikaitkan dengan upaya mengurangi stunting melalui pemanfaatan gizi yang berasal dari hasil perikanan. Di sisi lain, pengembangan usaha budi daya ikan diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat Sardonoharjo.

Melalui pelatihan tersebut, pemerintah kelurahan mendorong kelompok tani ikan agar dapat memanfaatkan potensi yang tersedia. Pengetahuan mengenai teknik pemijahan dan pembenihan menjadi salah satu bekal penting bagi peserta untuk mengembangkan kegiatan budi daya di kelompok masing-masing.

P2MKP Mina Raya Berikan Materi Karakteristik Ikan Bawal

Pengelola P2MKP Mina Raya, Anjar Purnomo, bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan pelatihan. Dalam penyampaian materinya, ia menjelaskan bahwa setiap jenis ikan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembudidaya perlu memahami karakter masing-masing ikan agar dapat menerapkan cara pemeliharaan yang sesuai.

Anjar menekankan bahwa pemahaman terhadap karakteristik ikan merupakan hal mendasar dalam kegiatan budi daya. Pengetahuan tersebut diperlukan karena setiap jenis ikan memiliki kebutuhan pemeliharaan yang tidak selalu sama. Dengan mengenali karakter ikan yang dibudidayakan, peserta dapat lebih memahami faktor-faktor yang perlu diperhatikan selama proses pemeliharaan.

Dalam materi mengenai budidaya ikan bawal, peserta juga diberikan penjelasan tentang pentingnya perawatan induk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi debit air, pemberian pakan, kedalaman kolam, serta umur induk. Dalam penyampaiannya, Anjar menjelaskan bahwa induk ikan bawal sebaiknya berusia di atas empat tahun.

Perawatan induk menjadi salah satu perhatian dalam proses persiapan pemijahan. Kondisi pemeliharaan, ketersediaan pakan, dan pengelolaan kolam merupakan aspek yang perlu diperhatikan oleh pembudidaya. Materi tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai sejumlah faktor yang harus dipahami sebelum melaksanakan proses pemijahan.

Peserta Mengikuti Praktik Langsung Pemijahan Ikan Bawal

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pemijahan ikan bawal. Pada sesi ini, peserta diajak untuk melihat dan mempelajari tahapan pemijahan, mulai dari proses pembenihan dengan penyuntikan hingga mengamati hasil benih yang telah berkembang.

Praktik lapangan menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, tetapi juga berkesempatan menyaksikan proses yang berkaitan langsung dengan kegiatan pembenihan. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat mengenal tahapan pemijahan secara lebih nyata.

Kegiatan praktik ini diharapkan dapat membantu peserta memahami materi yang telah disampaikan oleh narasumber. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani ikan dalam mengembangkan usaha perikanan di wilayah masing-masing.

Sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan, tiga kelompok tani ikan yang mengikuti pelatihan juga akan memperoleh bantuan berupa peralatan lengkap untuk pemijahan serta indukan ikan bawal. Bantuan tersebut ditujukan agar masing-masing kelompok memiliki sarana pendukung untuk mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh selama kegiatan.

Pemberian peralatan pemijahan dan indukan ikan bawal diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan setelah pelatihan selesai. Dengan adanya bantuan tersebut, kelompok tani ikan memiliki dukungan awal untuk mulai mengembangkan kegiatan pemijahan dan pembenihan secara mandiri.

Melalui kerja sama antara Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo dan P2MKP Mina Raya, pelatihan pemijahan ikan bawal ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelompok tani ikan. Pengembangan keterampilan, pemanfaatan potensi perikanan, serta dukungan peralatan menjadi bagian dari upaya mendorong kegiatan budi daya yang dapat dikelola oleh masyarakat.