P2MKP Dorong UMKM Perikanan melalui Pendampingan Legalitas

 

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Sektor ini membuka peluang usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong pemanfaatan potensi ekonomi lokal. Salah satu bidang yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan adalah pengolahan hasil perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) dapat mengambil peran dalam mendorong tumbuhnya UMKM berbasis hasil perikanan. Melalui pelatihan, pendampingan, dan peningkatan keterampilan, P2MKP berpotensi membantu masyarakat mengembangkan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah.

Pelajari Selengkapnya : P2MKP Dejeefish Sukabumi Telah Melatih Sekitar 6.000 Peserta

UMKM Berbasis Perikanan sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat

P2MKP mendorong UMKM menjadi bagian sangat penting diperekonomian nasional. Karakteristiknya yang relatif fleksibel memungkinkan masyarakat memulai usaha sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki. Dalam bidang perikanan, peluang usaha dapat dikembangkan melalui pengolahan ikan menjadi berbagai produk, seperti makanan olahan, produk siap saji, maupun produk bernilai tambah lainnya.

Pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pelaku usaha tidak hanya memerlukan keterampilan produksi, tetapi juga pengetahuan tentang pengemasan, pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pemenuhan ketentuan usaha.

Dalam konteks tersebut, P2MKP dapat menjadi sarana peningkatan kapasitas masyarakat. Pelatihan yang diberikan dapat membantu peserta memahami proses pengolahan hasil perikanan sekaligus membuka wawasan mengenai peluang usaha. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Namun, kemampuan menghasilkan produk berkualitas perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai pengelolaan usaha dan legalitas. Legalitas usaha menjadi salah satu fondasi penting agar pelaku UMKM dapat menjalankan kegiatan bisnis secara tertib, memperoleh kepastian hukum, serta memiliki kesempatan mengembangkan pasar.

Legalitas usaha merupakan bukti bahwa kegiatan usaha telah terdaftar dan memenuhi ketentuan perizinan yang berlaku. Bagi pelaku UMKM, legalitas bukan sekadar kelengkapan administrasi, melainkan salah satu langkah untuk membangun kepercayaan konsumen dan mitra usaha.

Pendampingan Pembuatan NIB bagi UMKM Desa Tridaya Sakti

Usaha yang memiliki legalitas lebih mudah dikenali secara administratif dan memiliki dasar yang lebih jelas ketika menjalin kerja sama. Legalitas juga dapat menjadi salah satu persyaratan dalam mengakses program pembinaan, fasilitas pendanaan, maupun dukungan pemberdayaan pemerintah sesuai ketentuan masing-masing program.

Sebaliknya, anggapan bahwa perizinan hanya diperlukan oleh perusahaan berskala besar dapat menghambat perkembangan usaha kecil. Padahal, proses perizinan berusaha telah diarahkan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil.

Salah satu dokumen penting dalam sistem perizinan berusaha saat ini adalah Nomor Induk Berusaha (NIB). NIB merupakan identitas pelaku usaha yang diterbitkan melalui sistem perizinan berusaha berbasis risiko. Bagi pelaku UMK, kepemilikan NIB dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh legalitas dan mengembangkan kegiatan usaha sesuai ketentuan yang berlaku.

Upaya mendorong legalitas usaha juga dilakukan melalui kegiatan pendampingan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Bhayangkara, Fakultas Hukum, kepada pelaku UMKM di Desa Tridaya Sakti.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memahami pentingnya perizinan dan proses pembuatan NIB. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman bahwa legalitas usaha merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan sejak awal menjalankan bisnis.

Legalitas sebagai Langkah Mengembangkan Usaha Perikanan

Bagi pelaku UMKM, proses pendampingan dapat membantu mengatasi kendala berupa keterbatasan informasi dan pemahaman mengenai administrasi perizinan. Dengan mengetahui tahapan pengurusan NIB, pelaku usaha diharapkan lebih percaya diri dalam menjalankan kegiatan bisnis secara formal.

Kepemilikan NIB juga dapat mendukung pengembangan usaha. Dokumen tersebut dapat menjadi salah satu persyaratan untuk mengakses pembiayaan, mengikuti program pembinaan pemerintah, serta menjalin kemitraan dengan pelaku usaha lain. Namun, akses terhadap fasilitas tersebut tetap bergantung pada persyaratan masing-masing lembaga dan program.

Penguatan UMKM berbasis hasil perikanan tidak cukup hanya melalui peningkatan keterampilan produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami aspek legalitas, standar produk, pengelolaan usaha, dan strategi pemasaran agar mampu bertahan serta bersaing.

P2MKP dapat berkontribusi melalui pelatihan dan pembinaan yang menghubungkan keterampilan teknis dengan kebutuhan pengembangan usaha. Sementara itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait dapat mendukung melalui pendampingan administrasi, akses informasi, serta program pemberdayaan.

Pendampingan pembuatan NIB bagi pelaku UMKM di Desa Tridaya Sakti menjadi salah satu contoh upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya legalitas usaha. Dengan legalitas yang sesuai ketentuan, pelaku usaha diharapkan memiliki landasan lebih kuat untuk mengembangkan bisnis, memperluas kemitraan, dan meningkatkan daya saing produk.

Pada akhirnya, sinergi antara P2MKP, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat menjadi penggerak tumbuhnya UMKM berbasis hasil perikanan. Penguatan keterampilan yang disertai legalitas usaha akan membantu menciptakan pelaku usaha yang lebih siap, mandiri, dan mampu memanfaatkan potensi perikanan sebagai sumber ekonomi masyarakat.

Klasifikasi P2MKP Proses Pelayanan dan Penetapan

Pelayanan publik yang berkualitas menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pengembangan kelembagaan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Untuk memastikan proses pelayanan berjalan secara terarah, transparan, dan sesuai ketentuan, diperlukan standar pelayanan yang menjadi pedoman bagi penyelenggara maupun masyarakat penerima layanan.

Pusat Pelatihan KP menyusun Standar Pelayanan Penetapan dan Klasifikasi P2MKP sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Standar tersebut bertujuan memastikan pelayanan memenuhi kondisi minimal yang diperlukan untuk mewujudkan pelayanan prima, berkualitas, efektif, efisien, serta memberikan kepastian kepada masyarakat.

Baca Selengkapnya : P2MKP Dorong UMKM Perikanan melalui Pendampingan Legalitas

Menjamin Pelayanan yang Berkualitas dan Memberikan Kepastian

Penyusunan standar pelayanan penetapan dan klasifikasi P2MKP diarahkan untuk mewujudkan sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak dan sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik atau good governance.

Dalam pelaksanaannya, pelayanan harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini penting untuk memastikan setiap proses memiliki dasar hukum yang jelas serta dilaksanakan secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Standar pelayanan juga berorientasi pada perlindungan hak dan kewajiban masyarakat. Pemohon perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai persyaratan, prosedur, dan tahapan pelayanan yang harus dilalui. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami proses pengajuan penetapan dan klasifikasi P2MKP secara lebih baik.

Selain itu, standar pelayanan bertujuan memberikan kepastian hukum dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kepastian tersebut diperlukan agar setiap permohonan diproses berdasarkan ketentuan yang berlaku, dengan mekanisme yang transparan dan konsisten.

Ruang Lingkup Pelayanan Penetapan dan Klasifikasi

Standar pelayanan mencakup seluruh proses yang dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan KP, mulai dari penerimaan permohonan hingga proses penetapan dan klasifikasi P2MKP.

Tahapan pelayanan meliputi penerimaan permohonan, verifikasi administrasi dan substansi, penilaian kelayakan, penetapan, serta klasifikasi P2MKP sesuai ketentuan Permen KP Nomor 18 Tahun 2024.

Pelayanan tersebut diberikan kepada masyarakat, lembaga, dan pelaku utama kelautan dan perikanan yang mengajukan penetapan dan klasifikasi P2MKP di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan cakupan pelayanan tersebut, standar menjadi pedoman bagi pelaksana dalam memberikan layanan yang transparan, akuntabel, efektif, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Penerapan standar juga diharapkan membantu memastikan bahwa proses pelayanan dilaksanakan sesuai asas pemerintahan yang baik dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Standar pelayanan penetapan dan klasifikasi P2MKP mencakup komponen pelayanan publik yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan layanan.

Komponen pertama hingga ketujuh merupakan persyaratan pelayanan, sistem, mekanisme dan prosedur, jangka waktu pelayanan, biaya atau tarif, produk pelayanan, penanganan pengaduan, saran, masukan dan apresiasi, serta dasar hukum.

Komponen tersebut memberikan gambaran mengenai hal-hal yang perlu diketahui masyarakat sebelum mengajukan permohonan. Informasi persyaratan dan prosedur membantu pemohon mempersiapkan dokumen, sedangkan kejelasan jangka waktu dan biaya mendukung kepastian dalam proses pelayanan.

Produk pelayanan juga perlu dijelaskan agar masyarakat mengetahui hasil yang akan diperoleh dari proses penetapan dan klasifikasi P2MKP.

Sementara itu, mekanisme penanganan pengaduan, saran, masukan, dan apresiasi menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi antara penyelenggara pelayanan dengan masyarakat.

Komponen berikutnya mencakup sarana dan prasarana, kompetensi pelaksana, pengawasan internal, jumlah pelaksana, jaminan pelayanan, serta jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan.

Pengawasan internal diperlukan untuk menjaga konsistensi pelaksanaan standar. Adapun jaminan pelayanan serta keamanan dan keselamatan menjadi bagian dari komitmen penyelenggara dalam memberikan layanan yang dapat dipercaya.

Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Pelayanan

Keberadaan standar pelayanan memberikan landasan bagi penyelenggara untuk melaksanakan proses penetapan dan klasifikasi P2MKP secara lebih terstruktur.

Bagi masyarakat dan lembaga pemohon, standar tersebut menjadi acuan untuk memahami hak, kewajiban, serta tahapan pelayanan yang harus dipenuhi. Informasi yang jelas juga membantu mengurangi ketidakpastian dalam proses pengajuan.

Bagi pelaksana, standar pelayanan menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan memastikan setiap permohonan ditangani berdasarkan prosedur yang berlaku.

Penerapan standar secara konsisten diharapkan dapat memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan publik. Dengan demikian, proses penetapan dan klasifikasi P2MKP dapat berjalan lebih tertib serta mendukung pengembangan kelembagaan pelatihan kelautan dan perikanan.

Melalui standar pelayanan yang jelas dan berorientasi pada masyarakat, Pusat Pelatihan KP diharapkan mampu memberikan pelayanan yang semakin profesional, efektif, dan berkualitas, sekaligus mendukung penguatan P2MKP sebagai lembaga pelatihan mandiri di bidang kelautan dan perikanan.

P2MKP Action Plan Forum untuk Penguatan Kelembagaan

Pembinaan tersebut mengacu pada Pasal 17 ayat (2) Permen KP Nomor 18 Tahun 2024, yang mencakup pengembangan kelembagaan P2MKP, peningkatan kapasitas tenaga kepelatihan, peningkatan kapasitas pengelola, peningkatan kualitas penyelenggaraan pelatihan, pembangunan jejaring kerja sama pelatihan, serta peningkatan akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi.

Sebagai tindak lanjut diterbitkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2024 tentang Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan, diselenggarakan P2MKP Action Plan Forum. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjembatani aspirasi P2MKP sekaligus memfasilitasi penyusunan rencana kerja tahunan yang mendukung pengembangan kelembagaan.

Informasi Lebih Lanjut : Klasifikasi P2MKP Proses Pelayanan dan Penetapan

P2MKP Action Plan Forum sebagai Wadah Penyusunan Rencana Kerja

P2MKP Action Plan Forum bertujuan memfasilitasi lembaga P2MKP dalam merumuskan rencana kerja untuk periode satu tahun mendatang. Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan sekaligus memastikan program pelatihan berjalan sesuai dengan visi dan misi BPPSDMKP.

Forum ini juga menjadi ruang berbagi informasi bagi P2MKP yang telah ditetapkan. Melalui komunikasi dan koordinasi antarlembaga, peserta dapat menyamakan arah kebijakan, membahas strategi pelaksanaan pelatihan, serta mengevaluasi capaian kinerja pada periode sebelumnya.

Penyamaan arah kebijakan menjadi penting karena P2MKP tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu, pelaksanaan pelatihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah, tanpa mengabaikan standar dan tujuan pembinaan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan data yang tercantum dalam dokumen kegiatan, hingga tahun 2025 terdapat 123 P2MKP yang telah ditetapkan dan masih aktif, tersebar di seluruh Indonesia. Keberadaan lembaga tersebut menjadi potensi penting dalam mendukung peningkatan kompetensi masyarakat melalui pelatihan kelautan dan perikanan.

Tujuh Fokus Penguatan Kelembagaan P2MKP

P2MKP Action Plan Forum memiliki sejumlah tujuan yang saling berkaitan dalam mendukung pengembangan kelembagaan dan peningkatan kualitas pelatihan.

Pertama, merumuskan rencana kerja tahunan untuk periode satu tahun mendatang. Penyusunan rencana kerja dilakukan agar program dan kegiatan P2MKP memiliki target yang jelas serta selaras dengan visi dan misi BPPSDMKP.

Kedua, menyamakan arah kebijakan melalui penyelarasan kebijakan, strategi, dan arah pelaksanaan pelatihan. Kesamaan arah diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta menjaga konsistensi penyelenggaraan pelatihan di berbagai wilayah.

Ketiga, mengevaluasi capaian kinerja tahun sebelumnya. Evaluasi terhadap hasil pelaksanaan pelatihan dan kegiatan P2MKP menjadi dasar untuk mengidentifikasi keberhasilan, kendala, serta kebutuhan perbaikan pada periode berikutnya.

Keempat, memperkuat kapasitas dan kelembagaan melalui peningkatan kompetensi tenaga kepelatihan dan pengelola P2MKP. Penguatan ini diperlukan agar lembaga mampu menjalankan fungsi pelatihan secara lebih profesional dan berkelanjutan.

Kelima, meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan. P2MKP didorong untuk menyelenggarakan pelatihan yang efektif, relevan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Materi serta metode pelatihan perlu memperhatikan kebutuhan peserta dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan perikanan.

Keenam, membangun jejaring kerja sama pelatihan. Penguatan jaringan antarp P2MKP dan dengan mitra eksternal diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program, memperluas kesempatan berbagi pengalaman, serta memperkuat dukungan terhadap program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ketujuh, meningkatkan akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. P2MKP perlu memperoleh informasi dan pengetahuan terbaru untuk mendukung inovasi, memperbarui materi pembelajaran, serta meningkatkan kemampuan dalam menyelenggarakan pelatihan.

Mendorong Pelatihan yang Berkualitas dan Berkelanjutan

P2MKP Action Plan Forum menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan kelembagaan secara terencana. Melalui forum ini, penyusunan rencana kerja, evaluasi kinerja, peningkatan kapasitas, dan pengembangan jejaring diharapkan dapat berjalan secara terpadu.

Rencana kerja tahunan yang disusun berdasarkan kebutuhan dan evaluasi dapat membantu P2MKP menentukan prioritas kegiatan secara lebih tepat. Selain itu, koordinasi antarlembaga membuka peluang untuk berbagi praktik baik dan mengembangkan kerja sama dalam penyelenggaraan pelatihan.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, P2MKP diharapkan semakin mampu menjalankan perannya sebagai lembaga pelatihan mandiri yang mendukung peningkatan kompetensi masyarakat kelautan dan perikanan.

Penyelarasan program dengan visi dan misi BPPSDMKP menjadi landasan agar kegiatan pelatihan tetap terarah, adaptif, dan relevan. Pada akhirnya, penguatan kelembagaan P2MKP diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan pelatihan serta mendukung pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan di Indonesia.

Pembinaan P2MKP Tamansari untuk Tingkatkan Budidaya Ikan

Pembinaan kelembagaan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat peran Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor perikanan. Melalui kegiatan pembinaan, kelembagaan P2MKP di Kecamatan Tamansari didorong agar semakin optimal dalam menjalankan fungsi pelatihan, pendampingan, dan pengembangan keterampilan masyarakat pembudidaya ikan.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Action Plan Forum untuk Penguatan Kelembagaan

Evaluasi Peran dan Fungsi Kelembagaan P2MKP

Dalam pembinaan P2MKP, narasumber mengevaluasi sejauh mana mendorong P2MKP telah menjalankan peran dan fungsinya sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat di bidang perikanan. Evaluasi diarahkan pada kontribusi lembaga dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan budidaya ikan, khususnya komoditas ikan nila.

Keberadaan P2MKP diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan pelatihan, tetapi juga mampu mendorong masyarakat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan usaha sehari-hari. Dengan demikian, pelatihan dapat memberikan manfaat nyata bagi pembudidaya, mulai dari peningkatan keterampilan teknis hingga pengembangan usaha yang lebih terencana.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah ikan nila BEST. Pengembangan komoditas tersebut memerlukan dukungan pengetahuan mengenai pemilihan benih, teknik pemeliharaan, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penerapan praktik budidaya yang tepat diharapkan dapat mendukung produktivitas dan kualitas hasil panen.

Kebijakan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor turut mendorong P2MKP agar terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penyusunan dan penerapan kurikulum pelatihan yang terstandar.

Kurikulum yang jelas dan terarah diperlukan agar materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pembudidaya. Standar pembelajaran juga membantu memastikan bahwa peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan, baik dalam aspek teknis budidaya maupun pengelolaan usaha perikanan.

Analisis Usaha untuk Memperkuat Daya Saing Pembudidaya

Selain kurikulum, peningkatan kompetensi melalui sertifikasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Dalam pertemuan tersebut, peserta didorong untuk memahami pentingnya sertifikasi seperti Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

CPIB berkaitan dengan penerapan standar dalam kegiatan pembenihan ikan, sedangkan CBIB menjadi pedoman dalam pelaksanaan budidaya ikan yang baik. Penerapan standar tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya menghasilkan produk yang lebih terjamin kualitasnya.

Dengan kualitas produksi dan penerapan standar yang semakin baik, hasil budidaya diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar yang lebih luas. Produk yang mampu memenuhi persyaratan mutu dan kebutuhan konsumen juga akan memiliki daya saing yang lebih baik.

Selain membahas penguatan kelembagaan dan standar pelatihan, kegiatan ini juga memberikan perhatian pada aspek ekonomi usaha budidaya. Drs. Anief Hamzah selaku Ketua P2MKP menyampaikan materi mengenai analisis usaha budidaya ikan nila BEST yang menguntungkan.

Materi analisis usaha penting karena keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan ikan dalam jumlah banyak. Pembudidaya juga perlu memahami perhitungan biaya produksi, kebutuhan pakan, penggunaan benih, biaya operasional, hasil panen, serta potensi pendapatan.

Mendorong P2MKP sebagai Wadah Pengembangan Masyarakat

Melalui pemahaman tersebut, pembudidaya diharapkan dapat mengambil keputusan usaha secara lebih tepat. Perhitungan yang baik membantu mereka memperkirakan kebutuhan modal, mengendalikan pengeluaran, dan menilai peluang keuntungan dari kegiatan budidaya.

Penyampaian materi analisis usaha juga menjadi pelengkap bagi pelatihan teknis. Pengetahuan tentang cara memelihara ikan perlu berjalan seiring dengan kemampuan mengelola usaha agar kegiatan budidaya dapat berkembang secara berkelanjutan.

Kegiatan pembinaan kelembagaan di Kecamatan Tamansari memperlihatkan pentingnya sinergi antara P2MKP, penyuluh perikanan, perangkat dinas, dan masyarakat pembudidaya. Masing-masing pihak memiliki peran dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta pengembangan usaha perikanan.

Melalui evaluasi kelembagaan, penguatan kurikulum, dorongan sertifikasi, dan pembekalan analisis usaha, P2MKP diharapkan semakin mampu menjalankan fungsi pelatihan secara terarah. Upaya tersebut juga diharapkan dapat memotivasi kelompok pembudidaya untuk terus meningkatkan kualitas proses produksi.

Pada akhirnya, penguatan P2MKP bukan hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan individu peserta pelatihan. Lebih dari itu, kelembagaan ini diharapkan menjadi sarana pengembangan masyarakat perikanan yang produktif, memiliki kompetensi, dan mampu menghasilkan produk budidaya ikan nila yang berkualitas serta berdaya saing.

P2MKP Dejeefish Sukabumi Telah Melatih Sekitar 6.000 Peserta

 

Berbagai kegiatan pelatihan telah diselenggarakan P2MKP Dejeefish untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di sektor perikanan. Programnya mencakup budidaya ikan air tawar hingga pengolahan hasil perikanan yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha produktif.

Di bawah kepemimpinan Deni Rusmawan, P2MKP Dejeefish berkembang menjadi salah satu tempat pembelajaran. Baik itu masyarakat, pelaku usaha, mahasiswa, dan berbagai kalangan yang ingin mendalami bidang kelautan dan perikanan.

Baca Juga : Pembinaan P2MKP Tamansari untuk Tingkatkan Budidaya Ikan

Selenggarakan Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Hasil Perikanan

P2MKP Dejeefish menyelenggarakan beragam pelatihan budidaya ikan air tawar, antara lain budidaya lele, gurame, nila, mas, patin, dan bawal. Selain itu, lembaga ini juga memberikan pelatihan pengolahan hasil perikanan, seperti (pembuatan nugget ikan, abon ikan, sosis ikan).

Materi pelatihan dirancang dengan perbandingan 25 persen teori dan 75 persen praktik. Komposisi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk lebih banyak mempelajari keterampilan secara langsung.

Khusus pelatihan budidaya ikan air tawar, kegiatan praktik dilaksanakan di lokasi pembudidaya dengan pendampingan pelatih yang memiliki keahlian di bidangnya.

Metode pembelajaran tersebut diharapkan membantu peserta memahami tahapan kegiatan usaha perikanan secara lebih nyata. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar, tetapi juga kesempatan mempelajari penerapan teknik budidaya dan pengolahan hasil perikanan.

Peserta Pelatihan Berasal dari Berbagai Wilayah Indonesia

Jangkauan kegiatan P2MKP Dejeefish telah menarik peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta tercatat berasal dari Aceh, Medan, Lampung, Riau, Batam, Ambon, Natuna, Balikpapan, Banjarmasin, Bengkulu dan sejumlah daerah lainnya.

Peserta juga datang dari Tasikmalaya, Banjar, Ciamis, Sukabumi, Garut, Tangerang, Kendari, Kupang, Manado, Makassar, Padang, Ternate, Timika, hingga Sampit.

Hingga data yang disampaikan, P2MKP Dejeefish telah melatih sekitar 6.000 orang. Pesertanya berasal dari kalangan pembudidaya ikan, pegawai BUMN, aparatur sipil negara yang akan memasuki masa purnabakti, pegawai swasta, mahasiswa, dan pelajar.

Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari pelatihan, magang atau praktik kerja lapangan (PKL), studi banding, hingga fisheries edutourism.

P2MKP Dejeefish juga memiliki pengalaman menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri. Di bawah kepemimpinan Deni Rusmawan, lembaga ini pernah bekerja sama dengan Pemerintah Kerajaan Kelantan, Malaysia, dalam penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan budidaya perikanan air tawar.

Dejeefish juga pernah ditunjuk Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai tempat pelatihan internasional dengan peserta dari Malaysia, Fiji, dan Kamboja.

Pengalaman tersebut menunjukkan jangkauan kegiatan pelatihan Dejeefish yang tidak hanya melibatkan peserta dari dalam negeri, tetapi juga pernah menjangkau peserta internasional.

Dalam pengembangan jejaring kelembagaan, Dejeefish tergabung dalam Forum Komunikasi P2MKP Nasional. Forum yang dibentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan ini menjadi wadah bagi lembaga P2MKP untuk membangun komunikasi, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kegiatan di bidang kelautan dan perikanan.

Menjadi Tempat Uji Kompetensi Bidang Perikanan

Selain menyelenggarakan pelatihan, P2MKP Dejeefish ditetapkan sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) bidang perikanan budidaya dan pengolahan hasil perikanan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Kelautan dan Perikanan (LSP-KP). Berdasarkan informasi yang diberikan, lembaga ini didukung oleh 23 asesor.

Keberadaan TUK tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengikuti proses pengujian kompetensi sesuai bidang keahlian. Dejeefish juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan pemerintah dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja, termasuk bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha perikanan dan peserta program Kartu Prakerja.

Peningkatan kompetensi diharapkan dapat menjadi bekal untuk mencari pekerjaan, mengembangkan kemampuan diri, maupun merintis usaha. Perhatian juga diarahkan kepada pekerja yang dirumahkan serta pelaku usaha mikro dan kecil yang terdampak kondisi ekonomi.

P2MKP Dejeefish memiliki sejumlah prestasi yang diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, antara lain juara pertama kategori kinerja terbaik P2MKP tingkat nasional dan penghargaan Adibakti Mina Bahari. Lembaga ini juga disebut memiliki Sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Selain kegiatan pelatihan, Dejeefish menjalankan sejumlah kegiatan usaha, meliputi budidaya ikan air tawar berkualitas, jasa pengiriman kargo ikan domestik dan luar negeri, serta penjualan peralatan dan obat-obatan perikanan.

P2MKP Dejeefish memiliki peran strategis dalam mendukung ketersediaan sumber daya manusia terlatih di sektor kelautan dan perikanan.

Melalui kegiatan pelatihan, pengujian kompetensi, kerja sama, dan pengembangan usaha, Dejeefish diharapkan terus berkontribusi dalam mencetak tenaga kerja yang terampil serta mendorong tumbuhnya wirausaha perikanan yang kompeten dan berdaya saing.

Randy Farm UD Bandeng Dikukuhkan sebagai P2MKP

RANDY FARM – Randy Farm atau UD. Randy Bandeng resmi ditetapkan dan dikukuhkan sebagai Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Pengukuhan ini menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia serta memperluas peluang berwirausaha di sektor kelautan dan perikanan.

Dengan penetapan tersebut, Randy Farm diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Khususnya bagi calon pengusaha yang ingin mengembangkan usaha di bidang kelautan dan perikanan.

Pahami Selengkapnya : P2MKP Latih Puluhan Warga Ketapang Budidaya Ikan Air Tawar

Pengukuhan P2MKP Buka Peluang Pengembangan Usaha

Keberadaan Randy Farm P2MKP juga diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor usaha perikanan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pengembangan keterampilan, serta pertukaran informasi antarpelaku usaha.

Pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP tidak hanya menjadi bentuk pengembangan lembaga pelatihan mandiri, tetapi juga diharapkan mampu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha.

Suksesnya acara penetapan dan pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan menjadi awal semakin terbukanya peluang berwirausaha di sektor kelautan dan perikanan.

Pengembangan usaha di bidang ini membutuhkan dukungan pengetahuan, keterampilan, serta akses terhadap informasi. Hal tersebut penting agar calon pelaku usaha dapat memahami potensi, kebutuhan, dan tantangan dalam menjalankan kegiatan perikanan.

Melalui keberadaan P2MKP, Randy Farm diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan usaha.

Peluang tersebut tidak hanya ditujukan bagi pelaku usaha yang telah menjalankan kegiatan perikanan, tetapi juga bagi calon wirausaha yang ingin memulai usaha di sektor tersebut.

Dengan meningkatnya keterampilan masyarakat, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang mampu mengembangkan potensi perikanan secara produktif.

Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kegiatan usaha.

Perkuat Jaringan Informasi Antar-Forkom

Selain pengembangan keterampilan, jalinan informasi antar-Forkom, baik di tingkat pusat maupun provinsi, menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kemajuan sektor kelautan dan perikanan.

Pertukaran informasi dapat membantu pelaku usaha dan lembaga pelatihan saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperoleh wawasan mengenai perkembangan usaha perikanan.

Jaringan komunikasi yang terbangun diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat kerja sama dan saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kelautan dan perikanan.

Melalui hubungan yang baik antar-Forkom, informasi mengenai peluang usaha, pengembangan keterampilan, dan potensi sektor perikanan diharapkan dapat disampaikan secara lebih luas.

Jalinan informasi antara Forkom pusat dan provinsi juga menjadi penting untuk memperkuat komunikasi antarlembaga.

Dengan adanya pertukaran pengalaman, masing-masing lembaga diharapkan dapat memperoleh pembelajaran yang bermanfaat bagi pengembangan kegiatan pelatihan dan usaha perikanan.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran lembaga pelatihan mandiri dalam mendukung pengembangan usaha masyarakat.

Keberadaan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di sektor kelautan dan perikanan.

Lembaga pelatihan mandiri memiliki potensi untuk menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha.

Melalui kegiatan pelatihan, masyarakat diharapkan dapat memahami berbagai aspek usaha perikanan, mulai dari pengelolaan kegiatan hingga pengembangan peluang bisnis.

Peningkatan keterampilan tersebut menjadi penting bagi calon pengusaha agar memiliki bekal dalam menjalankan usaha secara lebih terarah.

Randy Farm Diharapkan Berkontribusi bagi Kemajuan Perikanan

Selain itu, pengembangan kapasitas masyarakat diharapkan dapat mendorong munculnya pelaku usaha baru yang mampu memanfaatkan potensi sektor kelautan dan perikanan.

Dengan dukungan jaringan informasi dan kerja sama antarlembaga, P2MKP diharapkan dapat memperluas manfaat pelatihan bagi masyarakat.

Penetapan dan pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha kelautan dan perikanan di Indonesia.

Melalui penguatan keterampilan, akses informasi, dan jaringan kerja sama, calon pengusaha di sektor kelautan dan perikanan diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk memulai serta mengembangkan usahanya.

Ke depan, sinergi antara P2MKP, Forkom, dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat terus ditingkatkan agar pengembangan usaha perikanan semakin terarah.

Jalinan informasi yang baik juga diharapkan menjadi sarana untuk saling mendukung, memperluas wawasan, serta mendorong kemajuan usaha di berbagai daerah.

Dengan demikian, pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP tidak hanya menjadi penetapan sebuah lembaga pelatihan, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas peluang wirausaha dan mendorong kemajuan ekonomi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Melalui pengembangan keterampilan dan penguatan kerja sama, sektor perikanan diharapkan semakin mampu memberikan peluang usaha serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

P2MKP Latih Budidaya Ikan PSE Paroki St. Agustinus Gandeng

 

Kegiatan yang berlangsung di P2MKP Saung Tirta Weuning, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu dan Minggu. Tersebut diikuti 40 peserta dari umat Paroki St. Agustinus serta masyarakat yang tertarik mengembangkan usaha perikanan.

Pelatihan ini menghadirkan ketua P2MKP saung Tirta Weuning, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu dan Minggu, 25-26 Mei 2024, tersebut diikuti 40 peserta dari umat paroki St. Agustinus serta masyarakat yang tertarik mengembangkan usaha perikanan.

Pahami Selanjutnya : Randy Farm UD Bandeng Dikukuhkan sebagai P2MKP

PSE Dorong Masyarakat Kembangkan Budidaya Ikan

Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Paroki St. Agustinus, Tody Hartono. Tujuan pelatihan tersebut memberikan wawasan dan keterampilan kepada masyarakat yang memiliki ketertarikan pada P2MKP budidaya ikan.

Tidak hanya memberikan materi teori, kegiatan tersebut juga dilengkapi praktik pemijahan ikan, pembuatan media penetasan, penyuntikan indukan, hingga pembuatan pakan alternatif. Pelatihan difokuskan pada budidaya ikan lele sebagai salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan di lingkungan keluarga.

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memulai usaha sekaligus meningkatkan produktivitas keluarga. Sementara itu, Koordinator Tim Kerja PSE Caritas, Alponsius, berharap kegiatan tersebut mampu membangun minat umat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan secara mandiri.

Pelatihan dirancang secara komprehensif, mulai dari teori, praktik pemijahan, pembuatan media, pakan, hingga diskusi pemasaran. Dalam aspek permodalan, PSE juga mendorong peserta menjalin kemitraan dengan CUPS yang selama ini memiliki perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Ketua Pengurus CUPS, TMS. Hery Sukardi, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang dinilai dapat memperkuat keterampilan masyarakat dalam bidang perikanan. CUPS telah lama bersinergi dengan Kang Acil dalam kegiatan pendampingan perikanan bagi anggota, termasuk hingga wilayah Natai Kueni yang berada di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Pelatihan di Saung Tirta Weuning memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar langsung di pusat pelatihan yang memiliki fasilitas budidaya dan usaha pendukung. Ia menegaskan, CUPS bersama P2MKP siap memberikan pendampingan dan ruang diskusi secara berkelanjutan agar ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan.

Praktik Ikan Lele hingga Pembuatan Pakan

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan praktik budidaya ikan lele. Peserta belajar membuat media untuk meletakkan telur hasil pemijahan, melakukan penyuntikan hormon perangsang pada indukan, serta mengenal teknik pemijahan intensif dan semiintensif.

Salah satu peserta, Herkulana, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti praktik penyuntikan indukan ikan. Termotivasi untuk mulai membudidayakan ikan lele menggunakan media terpal di lingkungan rumah.

Pada hari kedua, peserta melanjutkan praktik mengeluarkan telur dari indukan betina, kemudian mencampurkannya dengan sperma indukan jantan. Telur yang telah dibuahi selanjutnya ditempatkan pada media akuarium dan stereofoam yang telah disiapkan.

“Nilai pelatihan hari ini 70-lah, karena belum kelihatan hasilnya. Nah, 24–27 jam ke depan atau besok hari Senin, ketika telur ini menetas jadi larva, nilainya 110-lah buat peserta,”

Setelah praktik pemijahan, kegiatan dilanjutkan dengan materi pembuatan pakan ikan menggunakan bahan baku yang tersedia di sekitar masyarakat. Gugah Sundana menjelaskan, pembuatan pakan alternatif dapat menjadi salah satu upaya menekan biaya operasional budidaya. Apabila harga pakan komersial mencapai Rp15.000 per kilogram, pakan alternatif dapat dibuat dengan biaya sekitar Rp7.800 per kilogram.

Kolaborasi Lintas  dan Rencana Pendampingan

Pembuatan pakan tetap perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi ikan, termasuk kandungan protein hewani, protein nabati, dan unsur lain sesuai usia ikan. Ini sangat penting dipahami pembudidaya untuk menekan cost operational dan tetap memaksimalkan hasil produksi. Alumnus Universitas Muhammadiyah dan Universiti Putra Malaysia tersebut mendedikasikan dirinya pada penelitian dan produksi pakan alternatif untuk budidaya ikan.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, PSE berencana membentuk kelompok budidaya ikan di lingkungan umat Paroki St. Agustinus. Kelompok tersebut nantinya akan mendapatkan pendampingan dan supervisi dari tim CUPS serta P2MKP.

Alponsius menilai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarumat berbeda agama. Pelatihan menjadi ruang belajar bersama yang memperlihatkan semangat kebersamaan dan kolaborasi dalam mengembangkan potensi masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan menikmati hidangan karedok serta makanan khas Sunda di restoran Saung Tirta Weuning, yang terletak di turunan sebelah kanan Jembatan Pawan II, Ketapang.

P2MKP Situbondo Kembangkan Pembenihan dan Pendederan Kerapu Cantang

Ikan kerapu cantang dikenal sebagai ikan hasil persilangan kerapu macan dan kerapu kertang. Komoditas ini dikembangkan dalam kegiatan budidaya karena memiliki potensi pasar, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal maupun peluang perdagangan yang lebih luas.

Pengembangan budidaya kerapu cantang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama dalam proses pembenihan dan pendederan. Kedua tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk menghasilkan benih berkualitas sebelum memasuki tahap pembesaran hingga panen.

Informasih Lebih Lanjut : P2MKP Latih Budidaya Ikan PSE Paroki St. Agustinus Gandeng

Budidaya Kerapu Cantang Memiliki Potensi Ekonomi

Kabupaten Situbondo dikenal memiliki kegiatan perikanan laut dan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat pesisir. Budidaya kerapu cantang merupakan komoditas perikanan laut yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pemasaran. Permintaan terhadap P2MKP ikan kerapu dapat berasal dari pasar lokal maupun perdagangan antardaerah, sehingga pengembangan budidayanya menjadi salah satu pilihan usaha bagi masyarakat.

Kerapu cantang menjadi salah satu jenis kerapu yang dibudidayakan dengan memanfaatkan teknik pembenihan dan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik ikan. Namun, keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih. Pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, kesehatan ikan, serta pemantauan pertumbuhan juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan budidaya diharapkan dapat menghasilkan ikan yang sehat dan memiliki kualitas sesuai kebutuhan pasar.

Pembenihan merupakan tahap awal dalam siklus budidaya ikan kerapu cantang. Pada tahap ini, kegiatan dimulai dari pengelolaan induk dan telur hingga pemeliharaan larva yang baru menetas. Penanganan telur menjadi salah satu proses penting karena kondisi telur dan lingkungan pemeliharaan berpengaruh terhadap keberhasilan penetasan.

Telur yang telah dibuahi perlu ditempatkan pada media pemeliharaan dengan kondisi air yang sesuai. Pemantauan kualitas air dilakukan untuk menjaga lingkungan tetap mendukung perkembangan embrio dan larva.

Setelah menetas, larva memasuki fase pemeliharaan yang membutuhkan perhatian khusus. Pada fase ini, pengelola perlu memperhatikan pemberian pakan, kondisi air, serta perkembangan larva secara berkala.

Pakan diberikan sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan kebutuhan larva. Pengelolaan pakan yang tepat menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pertumbuhan dan menjaga kondisi ikan. Selain itu, pemantauan kesehatan dan kebersihan media pemeliharaan diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan selama proses pembenihan.

Pendederan Kerapu Cantang Perlu Pengelolaan Intensif

Setelah melewati fase larva, ikan kerapu cantang memasuki tahap pendederan. Tahapan ini bertujuan memelihara benih hingga mencapai ukuran yang lebih siap untuk dipindahkan ke tahap pembesaran.

Dalam proses pendederan, pengelola perlu memperhatikan pertumbuhan dan kondisi benih secara rutin. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengelompokan ukuran atau grading. Proses ini bertujuan memisahkan ikan berdasarkan ukuran agar pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih teratur.

Grading juga membantu pengelola memantau keseragaman pertumbuhan dan mengurangi persaingan antarikan dalam memperoleh pakan. Selain itu, kualitas air menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Kondisi air yang sesuai dengan kebutuhan ikan dapat membantu mendukung pertumbuhan dan menjaga kesehatan benih.

Pemberian pakan juga perlu disesuaikan dengan ukuran dan perkembangan ikan. Pengelolaan pakan yang tepat diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi pemeliharaan. Melalui tahapan pendederan yang terkelola dengan baik, benih kerapu cantang diharapkan dapat tumbuh lebih optimal sebelum memasuki tahap pembesaran.

Keberhasilan pembenihan dan pendederan menjadi dasar penting dalam kegiatan pembesaran ikan kerapu cantang. Benih yang sehat dan memiliki pertumbuhan baik dapat menjadi modal bagi pembudidaya untuk melanjutkan proses pemeliharaan hingga mencapai ukuran panen.

P2MKP Dukung Pengembangan Keterampilan Budidaya Kualitas Benih

Pada tahap pembesaran, ikan membutuhkan pengelolaan lingkungan, pakan, dan kesehatan yang berkelanjutan. Pemantauan pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan ikan serta memastikan kegiatan pemeliharaan berjalan sesuai kebutuhan.

Panen menjadi tahap akhir dalam siklus pembesaran. Waktu panen ditentukan berdasarkan ukuran ikan, kondisi pemeliharaan, dan kebutuhan pasar. Dengan memperhatikan seluruh tahapan tersebut, pembudidaya dapat mengelola kegiatan perikanan secara lebih terencana.

Pengembangan pembenihan dan pendederan ikan kerapu cantang membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman mengenai teknik budidaya. P2MKP diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang perikanan.

Materi pembelajaran dapat mencakup pengelolaan induk, penanganan telur, pemeliharaan larva, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, grading, hingga persiapan benih untuk pembesaran. Peningkatan keterampilan tersebut menjadi penting untuk mendukung pengembangan usaha perikanan yang berkelanjutan.

Dengan potensi pasar ikan kerapu dan dukungan pengetahuan budidaya, pengembangan komoditas kerapu cantang di Situbondo diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat. Pengelolaan budidaya yang baik, mulai dari pembenihan hingga panen, menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas serta mendukung perkembangan sektor perikanan daerah.

P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Bersama Desa Bojong

Kegiatan yang berlangsung tersebut dilaksanakan di gedung pengolahan hasil kelautan di wilayah Bojong. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah rumput laut menjadi minuman yang memiliki nilai tambah.

Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai bahan yang digunakan, tahapan pembuatan. Serta teknik pengolahan wedang rumput laut yang sehat dan menarik.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi hasil laut sebagai bahan baku produk olahan. Selain menambah keterampilan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha berbasis pangan lokal.

Baca Selengkapnya : P2MKP Situbondo Kembangkan Pembenihan dan Pendederan Kerapu Cantang

P2MKP Berikan Pelatihan Pengolahan Rumput Laut

Pelatihan diikuti oleh anggota tim Dapur Cantik Desa Cantika Bojong yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan potensi hasil laut di wilayahnya. Sebagai pemateri, P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Tangerang Selatan menghadirkan Purwanti, yang memiliki keahlian dalam pembuatan wedang rumput laut.

Dalam penyampaian materi, Purwanti menjelaskan tahapan pembuatan wedang rumput laut, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan dan penyajian. Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya memilih bahan yang tepat agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik.

Selain pembekalan teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan wedang rumput laut. Peserta diajak mengenal proses pengolahan secara langsung, sehingga dapat memahami setiap tahapan yang diperlukan dalam menghasilkan minuman tersebut. Praktik ini menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang dapat diterapkan kembali di lingkungan masing-masing.

Dengan adanya pendampingan dari P2MKP, peserta diharapkan semakin memahami cara mengolah rumput laut menjadi produk minuman yang dapat dikembangkan sebagai usaha.

Wedang Rumput Laut Jadi Peluang Produk Olahan Lokal

Rumput laut merupakan salah satu hasil kelautan yang dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Pemanfaatannya sebagai bahan dasar minuman menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Melalui pelatihan pembuatan wedang rumput laut, masyarakat Bojong diperkenalkan pada peluang pengembangan produk olahan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku hasil laut.

Pengolahan bahan baku menjadi produk siap konsumsi diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi lebih dibandingkan hanya menjual bahan mentah. Keterampilan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha makanan dan minuman berbasis potensi lokal.

Bagi tim Dapur Cantik Desa Cantika Bojong, pelatihan ini menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai pengolahan hasil kelautan sekaligus mengenal variasi produk yang dapat dikembangkan.

Dengan pengetahuan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik pengolahan yang telah dipelajari serta mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk. Pengembangan produk olahan rumput laut juga berpotensi menjadi kegiatan produktif yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara berkelompok maupun dalam skala rumah tangga.

Tingkatkan Keterampilan dan Kreativitas Masyarakat Bojong

Pelatihan online pembuatan wedang rumput laut diharapkan memberikan manfaat bagi peserta dan masyarakat Desa Bojong secara luas. Peningkatan keterampilan menjadi salah satu tujuan utama kegiatan tersebut. Melalui pembelajaran teori dan praktik, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai cara mengolah rumput laut menjadi minuman.

Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan potensi sumber daya kelautan. Pengembangan produk olahan dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil laut dalam bentuk yang lebih beragam kepada masyarakat.

Apabila keterampilan tersebut terus dikembangkan, produk wedang rumput laut berpotensi menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dikelola oleh masyarakat. Pelatihan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antara pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan lembaga pelatihan dalam meningkatkan kapasitas warga.

Melalui kolaborasi dengan P2MKP Dapur Rumput Laut Tangerang Selatan, peserta memperoleh kesempatan untuk belajar dari tenaga yang memiliki pengalaman dalam pengolahan rumput laut. Ke depan, peningkatan keterampilan dan kreativitas masyarakat diharapkan dapat mendukung pengembangan produk berbasis hasil laut serta memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Dengan memanfaatkan potensi rumput laut dan memperkuat kemampuan pengolahan, masyarakat Desa Bojong diharapkan dapat mengembangkan produk lokal yang memiliki nilai tambah dan membuka peluang usaha baru.

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah dalam mendorong masyarakat agar semakin terampil, produktif, dan mampu mengoptimalkan potensi sumber daya kelautan yang tersedia.

P2MKP Latih Puluhan Warga Ketapang Budidaya Ikan Air Tawar

 

Pelatihan yang dipusatkan di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kabupaten Ketapang tersebut berlangsung selama tiga hari. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan teori, tetapi juga praktik penyemaian benih dan pembuatan pakan ikan secara ekonomis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Selain membuka peluang usaha, program tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan ikan di tingkat desa serta meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

Baca Juga : P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Bersama Desa Bojong

Pelatihan Budidaya dan Tingkatkan Kapasitas Warga

Ketua Tirta Weuning Kabupaten Ketapang, M Abduh, bertindak sebagai pemateri sekaligus pendamping selama pelatihan P2MKP Budidaya Ikan Air Tawar berlangsung.

Sebelum mengikuti praktik, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar budidaya ikan air tawar. Materi tersebut menjadi bekal bagi warga untuk mengenal tahapan pengembangan usaha perikanan, mulai dari persiapan hingga pengelolaan budidaya.

Dalam kegiatan praktik, peserta diperkenalkan dengan teknik penyemaian benih serta pembuatan pakan ikan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok pembudidaya mengelola usaha secara lebih efektif, terutama dalam memenuhi kebutuhan pakan yang menjadi salah satu komponen penting dalam biaya produksi.

Salah satu peserta, Kadorusno, mengatakan pelatihan vokasi budidaya ikan air tawar memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Menurutnya, kebutuhan ikan air tawar cukup tinggi, sementara ketersediaannya di tingkat pembudidaya masih terbatas.

Kepala Desa Kayong Utara, Kecamatan Nanga Tayap, itu menjelaskan bahwa desanya pernah memiliki kelompok budidaya ikan air tawar. Namun, kegiatan kelompok tersebut tidak berkembang karena minimnya pendampingan.

“Dengan adanya pelatihan dari CSR perusahaan ini ada penguatan kapasitas. Penguatan kapasitas inilah yang diharapkan untuk keberlangsungan budidaya ikan air tawar,”

Desa Siapkan Kelompok Budidaya untuk Ketahanan Pangan

Kadorusno mengungkapkan, pemerintah desa turut mendukung pengembangan budidaya ikan air tawar melalui alokasi anggaran untuk program ketahanan pangan.

Menurutnya, desa mengalokasikan 20 persen dari anggaran yang disebutnya sebagai ADD dan DD untuk mendukung ketahanan pangan, termasuk pengembangan budidaya ikan air tawar.

Pada tahun ini, terdapat tiga kelompok budidaya ikan air tawar yang dibentuk di desa tersebut. Setiap kelompok beranggotakan sekitar 10 orang.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi awal pengembangan usaha perikanan berbasis masyarakat. Dengan adanya kelompok, warga diharapkan lebih mudah melakukan koordinasi, berbagi pengetahuan, serta mengelola kegiatan budidaya secara bersama-sama.

Selama ini, kebutuhan ikan air tawar masyarakat masih dipenuhi dengan mendatangkan pasokan dari luar desa. Padahal, sebagian besar warga memiliki mata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan.

Melalui pengembangan budidaya ikan, masyarakat diharapkan memiliki sumber usaha tambahan sekaligus meningkatkan ketersediaan pangan lokal.

Kadorusno berharap pelatihan dan pendampingan yang diberikan BGA dapat membantu kelompok budidaya bertahan dan berkembang. Ia juga menilai keterlibatan perusahaan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk melihat perikanan sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.

BGA Dorong Usaha Perikanan Berkelanjutan

Pelatihan budidaya ikan air tawar merupakan salah satu program perusahaan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurutnya, potensi perikanan air tawar cukup besar sehingga perlu dikembangkan melalui pembinaan yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini kita lihat penting karena potensi dari ikan air tawar luar biasa. Makanya ini kita lakukan sebagai upaya pengembangan usaha binaan perikanan yang berkelanjutan,”

Sebelum pelatihan dilaksanakan, BGA telah melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui bantuan bibit ikan.

P2MKP turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Selain itu, kebutuhan ikan di perusahaan juga menjadi salah satu peluang yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan usaha budidaya masyarakat.

Selain materi budidaya, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai pembuatan pakan ikan secara ekonomis. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu kelompok mengelola kebutuhan pakan dengan lebih efisien.

Melalui program ini, BGA berharap masyarakat binaan semakin memiliki keterampilan dalam mengembangkan usaha perikanan. Penguatan kapasitas kelompok, dukungan sarana budidaya, serta pendampingan lanjutan diharapkan menjadi modal bagi warga untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Dengan potensi pasar yang tersedia dan dukungan berbagai pihak, budidaya ikan air tawar di Kabupaten Ketapang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha produktif bagi masyarakat, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.