P2MKP Bisnis Ikan Hias Digitalisasi bersama NSC UNM

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (7/5) tersebut dilaksanakan di lokasi budidaya P2MKP Mina Mulya, Jalan KH Mas’ud, Desa Tridaya Sakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis dalam mengembangkan inovasi teknologi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Melalui observasi tersebut, NSC berupaya mengidentifikasi kebutuhan pelaku usaha budidaya ikan hias sekaligus melihat peluang penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan bisnis akuakultur. Hasil pengamatan diharapkan menjadi dasar untuk mengembangkan solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Informasi Lebih Lanjut : Pemprov Jateng Dukung Pemberdayaan Masyarakat P2MKP

NSC Universitas Nusa Mandiri Jajaki Potensi Digitalisasi

Dalam kunjungan tersebut, tim NSC bertemu dengan Didi selaku Ketua Forum P2MKP bisnis ikan hias digitalisasi. Pertemuan dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai kondisi usaha, tantangan distribusi, serta peluang pengembangan bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital.

Diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan pelaku usaha secara langsung. Dengan mengetahui kondisi operasional dan kendala yang dihadapi, pengembangan teknologi diharapkan tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata.

Sektor budidaya ikan hias dinilai memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan. Namun, pengelolaan usaha dan distribusi produk membutuhkan dukungan sistem yang efektif agar kegiatan bisnis dapat berjalan lebih terorganisasi.

Karena itu, NSC melakukan pengamatan terhadap unit budidaya akuakultur untuk mengidentifikasi kemungkinan penerapan teknologi informasi dan sistem manajemen operasional berbasis digital.

Salah satu perhatian utama dalam kegiatan observasi adalah pengembangan solusi digital untuk mendukung distribusi ikan hias. Sistem distribusi yang lebih efektif dan terintegrasi diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengelola proses pemasaran serta memperluas jangkauan konsumen.

Digitalisasi Distribusi Ikan Hias Jadi Fokus Observasi

Pemanfaatan teknologi digital berpotensi mendukung pengelolaan informasi produk, komunikasi dengan pelanggan, hingga koordinasi distribusi. Dengan sistem yang tepat, pelaku usaha dapat memperoleh kemudahan dalam mengelola aktivitas bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional.

Kepala Nusa Mandiri Startup Center, Siti Nurlela, mengatakan bahwa sektor budidaya ikan hias memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi startup digital. Menurutnya, pengembangan teknologi perlu diawali dengan memahami kebutuhan mitra agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi usaha.

“Budidaya ikan hias memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Melalui observasi ini, NSC ingin melihat secara langsung kebutuhan mitra agar nantinya dapat dikembangkan solusi digital yang relevan,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Senin (11/5).

Siti Nurlela menambahkan bahwa transformasi digital bagi usaha mikro dan komunitas budidaya menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing. Perkembangan teknologi dan pasar digital menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi agar mampu menjangkau peluang pasar yang lebih luas.

Kegiatan observasi di P2MKP Mina Mulya juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem inovasi dan kewirausahaan digital yang dikembangkan Universitas Nusa Mandiri.

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung identitas Kampus Digital Bisnis, UNM tidak hanya mendorong pengembangan teknologi di lingkungan akademik. Universitas juga berupaya memperluas penerapan inovasi melalui kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha di berbagai sektor.

Harapkan Kolaborasi Lanjutan untuk Kemajuan Akuakultur

Pendekatan tersebut membuka peluang bagi mahasiswa dan pengembang startup untuk memahami kebutuhan pasar secara langsung. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan dapat memiliki orientasi pemecahan masalah dan potensi penerapan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Kolaborasi dengan P2MKP Mina Mulya menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan potensi sektor akuakultur dengan pengembangan teknologi digital. Melalui komunikasi dan pengamatan langsung, kebutuhan pelaku usaha dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang inovasi yang tepat guna.

Melalui kegiatan ini, NSC berharap dapat membuka peluang kerja sama lanjutan dengan P2MKP Mina Mulya dalam pengembangan startup berbasis teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan solusi digital yang dapat mendukung pengelolaan usaha dan meningkatkan daya saing bisnis budidaya ikan hias.

Digitalisasi sektor akuakultur juga berpotensi menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemasaran produk perikanan. Dukungan teknologi yang sesuai kebutuhan dapat membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan pola perdagangan dan perilaku konsumen.

Universitas Nusa Mandiri menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi, kolaborasi, dan pengembangan startup yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui peran NSC, potensi usaha lokal diharapkan dapat terhubung dengan perkembangan teknologi sehingga mampu menciptakan peluang bisnis baru dan memperkuat daya saing sektor akuakultur di era digital.

P2MKP Kembangkan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Pemanfaatan seluruh bagian ikan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan. Salah satunya melalui inovasi pembuatan kerupuk tulang ikan lele dengan konsep zero waste process atau pengolahan minim limbah. Inovasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang usaha yang layak dikembangkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu usaha yang mengembangkan produk tersebut adalah UMKM Daniel Home Industri. Usaha ini mengolah tulang ikan lele menjadi kerupuk melalui sejumlah tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan dan penyimpanan produk.

Pengolahan tulang ikan lele menjadi kerupuk merupakan bentuk diversifikasi produk perikanan. Bagian ikan yang berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, pemanfaatan bahan baku ikan dapat dilakukan secara lebih maksimal.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Bisnis Ikan Hias Digitalisasi Bersama NSC UNM

Kerupuk Tulang Ikan Lele Jadi Peluang Usaha Olahan Perikanan

P2MKP kembangan usaha kerupuk tulang Ikan lele dikenal sebagai salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Dalam proses pengolahan tulang ikan, sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bagian tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan alternatif.

Konsep zero waste process menjadi pendekatan untuk mengurangi bagian bahan baku yang terbuang selama proses produksi. Melalui inovasi kerupuk tulang ikan lele, pelaku usaha dapat menciptakan produk tambahan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Pengembangan produk ini juga menunjukkan bahwa usaha pengolahan hasil perikanan tidak harus selalu bergantung pada produk utama. Kreativitas dalam mengolah bagian lain dari ikan dapat menjadi sumber peluang usaha baru. Tahapan Produksi Kerupuk Tulang Ikan Lele.

Berdasarkan hasil observasi pada UMKM Daniel Home Industri, proses pembuatan kerupuk tulang ikan lele terdiri atas beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan. Setiap tahap memiliki peran penting untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Pengolahan Bahan Baku dan Pembuatan Adonan.

Proses produksi diawali dengan penerimaan bahan baku, kemudian dilanjutkan dengan pencucian untuk membersihkan tulang ikan lele. Setelah itu, tulang direbus dan dihaluskan sebelum dicampurkan ke dalam adonan.

Tahap pencampuran dilakukan untuk menghasilkan adonan yang dapat dibentuk menjadi kerupuk. Selanjutnya, adonan dicetak dan dikukus agar terbentuk struktur produk sebelum memasuki proses berikutnya. Pemotongan, Penjemuran, dan Pengemasan.

Setelah dikukus, adonan dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Potongan tersebut kemudian dijemur hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk proses penggorengan.

Tahap selanjutnya adalah penggorengan, pengemasan, dan penyimpanan. Produk yang telah dikemas kemudian ditata pada tempat display agar lebih mudah diperkenalkan dan ditawarkan kepada konsumen.

Rangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan tulang ikan lele membutuhkan tahapan produksi yang terencana. Kebersihan bahan baku, ketepatan proses pengolahan, dan pengemasan menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk menjaga mutu produk.

Analisis Kelayakan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Selain mengamati proses produksi, kajian terhadap UMKM Daniel Home Industri juga dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha kerupuk tulang ikan lele. Analisis ini penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan potensi pengembangan usaha.

Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis data dilakukan melalui analisis finansial dan analisis kelayakan usaha untuk mengetahui gambaran proses pengolahan serta kemampuan usaha menghasilkan keuntungan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Break Even Point (BEP) unit tercapai apabila produksi mencapai 100 kemasan atau produk per bulan. Sementara itu, BEP rupiah tercapai ketika nilai penjualan mencapai Rp1.704.849,94 per bulan.

Adapun nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) tercatat sebesar 2,02. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penerimaan usaha lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, usaha kerupuk tulang ikan lele di UMKM Daniel Home Industri dinilai layak untuk dikembangkan.

Dorong Inovasi dan Nilai Tambah Produk Perikanan

Pengembangan kerupuk tulang ikan lele memberikan gambaran bahwa inovasi pengolahan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Pemanfaatan tulang ikan sebagai bahan baku produk olahan juga mendukung penggunaan sumber daya secara lebih optimal.

Selain membuka peluang pendapatan, usaha ini dapat menjadi contoh diversifikasi produk bagi pelaku UMKM di sektor perikanan. Pengembangan usaha tetap perlu didukung pengelolaan produksi, pengendalian mutu, pengemasan, serta pemasaran yang baik.

Melalui pendekatan zero waste process, pengolahan hasil perikanan diharapkan tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan baku secara lebih efisien. Kerupuk tulang ikan lele pun berpotensi menjadi salah satu produk unggulan olahan perikanan yang dapat dikembangkan lebih luas.

Melatih Ibu Rumah Tangga di Pulo Aceh P2MKP Ikan Tongkol

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) bersama tim pengabdian kepada masyarakat menggelar pelatihan pengolahan ikan tongkol menjadi produk lokal eungkoet keumamah bagi ibu rumah tangga di Gampong Gugop, Pulo Aceh. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil laut sekaligus membuka peluang usaha baru untuk menambah pendapatan keluarga.

Pulo Aceh merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan melimpah. Berbagai jenis ikan menjadi hasil tangkapan nelayan dan sumber penghidupan masyarakat setempat. Namun, selama ini sebagian hasil laut, termasuk ikan tongkol, masih banyak dijual dalam kondisi mentah kepada agen untuk didistribusikan ke wilayah lain.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan usaha melalui pengolahan hasil perikanan. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang tepat, ikan hasil tangkapan nelayan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, memiliki daya simpan lebih baik, serta berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelajari Selengkapnya : P2MKP Kembangkan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Tingkatkan Keterampilan Ibu Rumah Tangga

Pelatihan pengolahan P2MKP ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah dilaksanakan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga di Gampong Gugop. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis agar masyarakat mampu memanfaatkan potensi hasil laut di lingkungan mereka.

Tim pengabdian menilai bahwa keterampilan masyarakat perlu terus dikembangkan agar mampu menghadapi tantangan ekonomi dan dunia kerja. Pelatihan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan, membangun kreativitas, serta mendorong masyarakat agar lebih produktif.

Selama ini, sebagian ibu rumah tangga di Gampong Gugop masih membutuhkan pendampingan dalam mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan pada kemampuan mengolah bahan baku, tetapi juga memperkenalkan peluang usaha yang dapat dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada pengolahan ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah. Produk tersebut merupakan salah satu olahan ikan yang dikenal dalam tradisi kuliner Aceh. Pengembangan produk lokal seperti ini diharapkan dapat menjadi alternatif usaha rumah tangga sekaligus memperkuat identitas kuliner daerah.

Pengolahan dan Pengemasan Tingkatkan Nilai Jual Produk

Salah satu tujuan utama pelatihan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Ikan tongkol yang sebelumnya dijual mentah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk yang memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan dan pengemasan.

Selain keterampilan mengolah ikan, masyarakat juga didorong untuk memahami pentingnya pengemasan produk. Kemasan yang layak dan menarik dapat membantu menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan daya tarik konsumen.

Aspek pemasaran juga menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian tersebut. Masyarakat diperkenalkan pada peluang pemasaran secara langsung atau offline maupun melalui media digital atau online. Kedua cara tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pemasaran dan mempermudah distribusi produk.

Dengan bekal keterampilan tersebut, ibu rumah tangga diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk untuk konsumsi keluarga, tetapi juga memiliki peluang mengembangkan usaha secara mandiri.

Pelaksanaan pelatihan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian berupaya menerapkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan peserta dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka. Ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan memperoleh pengalaman baru dalam mengolah ikan tongkol menjadi produk eungkoet keumamah.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari keinginan peserta untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Mereka mulai melihat bahwa hasil laut yang tersedia di lingkungan sendiri dapat menjadi peluang usaha apabila diolah secara kreatif dan dikelola dengan baik.

Pengembangan usaha berbasis hasil perikanan diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Selain itu, kegiatan tersebut berpotensi membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat dan mendorong pemanfaatan hasil tangkapan nelayan secara lebih optimal.

Masyarakat Harapkan Pelatihan Produk Olahan Ikan Berlanjut

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapat respons positif dari warga Gampong Gugop. Tim pengabdian berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan kembali dengan materi pengolahan hasil laut lainnya sesuai potensi daerah.

Salah satu kebutuhan yang disampaikan masyarakat adalah pelatihan pembuatan kerupuk berbahan dasar ikan. Produk tersebut dinilai berpotensi dikembangkan dengan memanfaatkan hasil tangkapan nelayan yang tersedia di Pulo Aceh.

Tim pengabdian menyambut baik harapan tersebut dan berharap kegiatan lanjutan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Pendampingan yang berkelanjutan diperlukan agar keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat berkembang menjadi kegiatan usaha produktif.

Tim juga menyampaikan terima kasih kepada Keuchik dan perangkat Gampong Gugop, masyarakat, serta para mitra yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Apresiasi turut disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama, mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat.

Melalui pelatihan pengolahan ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah, potensi hasil laut Pulo Aceh diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan keterampilan, kreativitas, dan dukungan pemasaran, produk olahan lokal berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi keluarga sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

P2MKP Terima Praktikum Mahasiswa Akuakultur Amphibi

Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Amphibi Padanglancat, Marihot Anton Sihombing, menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Akuakultur Sekolah Tinggi Perikanan Matauli untuk melaksanakan praktikum lapangan. Kegiatan yang berlangsung baru-baru ini tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai kegiatan budidaya perikanan.

Praktikum lapangan ini disambut antusias oleh pengelola P2MKP maupun para mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan teknis, serta memahami penerapan ilmu akuakultur yang telah dipelajari selama perkuliahan.

Baca Selengkapnya : Melatih Ibu Rumah Tangga di Pulo Aceh P2MKP Ikan Tongkol

P2MKP Amphibi Padanglancat Dukung Pembelajaran Praktis Mahasiswa

Marihot Anton Sihombing selaku pengelola P2MKP Amphibi Padanglancat menyambut baik kedatangan mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Matauli. P2MKP terima praktikum mahasiswa ini dapat memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat sekaligus mempererat hubungan antara lembaga pendidikan dan pelaku usaha di sektor perikanan.

Menurut Marihot, pembelajaran secara langsung di lapangan memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa memahami proses budidaya perikanan. Dengan melihat dan terlibat langsung dalam kegiatan operasional, mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai praktik akuakultur.

“Kami ingin memastikan mahasiswa mendapatkan pemahaman langsung tentang praktik akuakultur yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara pengelola P2MKP dan lingkungan akademik. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan.

Selama praktikum berlangsung, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai aspek kegiatan akuakultur. Materi yang dipelajari mencakup proses budidaya ikan, pengelolaan lingkungan perairan, hingga kegiatan teknis yang mendukung keberhasilan usaha budidaya.

P2MKP Amphibi Padanglancat memiliki sejumlah fasilitas pendukung kegiatan pelatihan, di antaranya kolam budidaya dan hatchery atau fasilitas pembenihan dalam ruangan. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal tahapan kegiatan perikanan secara lebih dekat.

Mahasiswa Pelajari Berbagai Tahapan Budidaya Ikan

Selain memperoleh penjelasan dari pengelola, mahasiswa juga berkesempatan mengamati aktivitas budidaya secara langsung. Mereka mengikuti sejumlah kegiatan lapangan, seperti pemberian pakan ikan dan pemantauan kualitas air.

Kegiatan tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh proses pemeliharaan ikan. Pengelolaan kualitas air, pemberian pakan yang tepat, serta pemantauan kondisi lingkungan perairan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan pertumbuhan ikan.

Melalui praktik tersebut, mahasiswa dapat menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di lapangan. Pengalaman ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan mereka dalam menghadapi berbagai situasi selama menjalankan kegiatan budidaya.

Selain mempelajari kegiatan teknis budidaya, mahasiswa juga mendapatkan tambahan wawasan mengenai inovasi dalam bidang akuakultur. Pembahasan mencakup pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan perikanan.

Pengenalan inovasi tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan sektor perikanan. Penerapan teknologi dan pengelolaan yang tepat dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efektivitas kegiatan budidaya sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai tantangan dan peluang dalam pengembangan usaha akuakultur. Dengan demikian, praktikum tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga memperluas wawasan mengenai kebutuhan dan perkembangan dunia usaha perikanan.

Perkuat Kerja Sama Dunia Pendidikan dan P2MKP

Praktikum lapangan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat kerja sama antara P2MKP Amphibi Padanglancat dan Sekolah Tinggi Perikanan Matauli. Sinergi antara lembaga pelatihan dan institusi pendidikan diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa.

Marihot Anton Sihombing berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lapangan menjadi salah satu upaya untuk mendukung lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kesiapan kerja di bidang akuakultur.

Pada akhir kegiatan, mahasiswa bersama pengelola P2MKP mengadakan sesi diskusi dan evaluasi. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak berbagi pengalaman serta menyampaikan hal-hal yang diperoleh selama praktikum berlangsung.

Salah seorang mahasiswa menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar yang diberikan oleh P2MKP Amphibi Padanglancat. Pengalaman tersebut dinilai berharga karena memberikan gambaran nyata mengenai aktivitas budidaya perikanan dan menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kami berterima kasih kepada P2MKP atas kesempatan yang diberikan. Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk menghadapi dunia kerja di masa depan,” ungkapnya.

Kegiatan praktikum lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan sektor usaha perikanan. Melalui pembelajaran langsung, pertukaran pengetahuan, dan pengenalan inovasi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia akuakultur diharapkan dapat terus meningkat.

Pemprov Jateng Dukung Pemberdayaan Masyarakat P2MKP

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Salah satu upaya tersebut terlihat dalam kunjungan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah. Komjen Pol (P) Drs. Nana Sudjana, A.S., M.M., bersama rombongan Komisi IV DPR RI ke Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Alang-Alang. Tumbuh Subur di Desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, pada Kamis.

P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur yang dikelola oleh Titi Wahyuni tidak hanya menjadi tempat pengolahan ikan lele. Tetapi juga berkembang sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Usaha yang telah dirintis sejak 2007 tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan. Memiliki potensi untuk membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat.

Baca Juga : P2MKP Terima Praktikum Mahasiswa Akuakultur Amphibi

P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur Kembangkan Usaha

Dalam pengelolaan pemberdayaan masyarakat P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur menerapkan kegiatan usaha perikanan dari hulu hingga hilir. Aktivitasnya mencakup budidaya ikan lele, proses produksi dan pengolahan, hingga pemasaran berbagai produk hasil perikanan.

Pengelolaan secara terintegrasi tersebut menjadi salah satu keunggulan usaha karena tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga memperhatikan proses pengolahan dan nilai tambah produk sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Pengolahan Ikan Lele Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Ikan lele yang dihasilkan melalui kegiatan budidaya selanjutnya diolah menjadi berbagai produk dengan kemasan yang lebih menarik dan layak dipasarkan. Proses pengolahan tersebut memberikan nilai tambah terhadap hasil perikanan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, rombongan memperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan usaha, mulai dari kegiatan budidaya hingga pengolahan produk yang siap dipasarkan.

Pengembangan sektor pengolahan ikan seperti ini menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Dengan pengelolaan yang baik, hasil budidaya tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki daya saing.

Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pengolahan Ikan

Selain menjalankan kegiatan usaha, P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur juga aktif menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan dan kemampuan warga dalam mengembangkan usaha berbasis perikanan.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar Desa Randusari, tetapi juga dari berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan P2MKP memiliki manfaat yang lebih luas dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kolaborasi dengan BAZNAS Jawa Tengah

Dalam pelaksanaan program pemberdayaan, P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur juga telah menjalin kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Tengah.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pemberian pelatihan kepada para mustahik agar memiliki keterampilan dalam mengolah hasil perikanan. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengolahan ikan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Pemberdayaan melalui pelatihan diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan meningkatkan potensi ekonomi keluarga.

Pemprov Jateng Siap Koordinasikan Dukungan Pengembangan Usaha

Dalam kunjungan tersebut, Pj Gubernur Jawa Tengah menyampaikan perhatian terhadap pengembangan usaha dan berbagai kebutuhan yang dihadapi pengelola P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur.

Pihaknya menyatakan komitmen untuk membantu menindaklanjuti kebutuhan tersebut melalui koordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Kelautan dan Perikanan. Langkah koordinasi diperlukan agar bentuk dukungan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kewenangan instansi terkait.

Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat membantu keberlanjutan usaha sekaligus memperkuat peran P2MKP dalam mengembangkan sektor perikanan dan pemberdayaan masyarakat.

P2MKP Menjadi Penggerak Ekonomi dan Kemandirian Masyarakat

Keberadaan P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur memperlihatkan bahwa usaha perikanan dapat memberikan manfaat yang lebih luas apabila dikembangkan bersama program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.

Usaha yang dirintis sejak 2007 tersebut diharapkan terus berkembang, baik dari sisi produksi, pengolahan, pemasaran, maupun jangkauan pelatihan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengelola usaha, tetapi juga masyarakat yang memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan mengembangkan potensi ekonomi.

Melalui perhatian dan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pengembangan P2MKP diharapkan semakin optimal. Sinergi antara pemerintah, pengelola usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sektor perikanan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pemberdayaan masyarakat melalui sektor perikanan bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan keterampilan, membuka peluang usaha, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

KKP Apresiasi Inovasi Pengembangan Perikanan dan Budidaya

 

 

SLEMAN – Kabupaten Sleman mendapat apresiasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atas berbagai inovasi dalam pengembangan sektor pertanian dan perikanan. Apresiasi tersebut diberikan karena sejumlah program dan kegiatan yang dikembangkan di wilayah Sleman dinilai mampu menjadi contoh penerapan inovasi dalam meningkatkan kualitas serta produksi perikanan.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP), Kusdiantoro, dalam kegiatan Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda KTNA) 2019 di Pakem, Sleman, pada Selasa.

Siswa SMAN 1 Taman Belajar Kewirausahaan Perikanan di P2MKP

Mina Ngremboko Menjadi Contoh Pengembangan Budidaya Perikanan

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Mina Ngremboko yang berada di Bokesan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu contoh pengembangan kegiatan perikanan yang telah dikenal hingga tingkat nasional.

Kusdiantoro menjelaskan bahwa Mina Ngremboko telah berkembang menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Perkembangan perikanan menunjukkan bahwa kawasan budidaya perikanan tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran dan penyebaran pengetahuan bagi masyarakat.

“Jadi dari banyak wilayah saat ini sudah banyak yang berlatih kegiatan budidaya dan pengolahan di Mina Ngremboko,” katanya.

Keberadaan P2MKP Mina Ngremboko memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai daerah untuk mempelajari kegiatan budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Melalui kegiatan pelatihan tersebut, pengetahuan dan pengalaman yang berkembang di kawasan ini dapat dibagikan kepada pelaku usaha perikanan lainnya.

Dengan demikian, Mina Ngremboko tidak hanya dikenal melalui aktivitas budidayanya, tetapi juga melalui perannya sebagai tempat pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan.

Kampung Nila Dorong Penerapan Hasil Riset kepada Masyarakat

Selain Mina Ngremboko, Kusdiantoro juga menyebut Kampung Nila sebagai salah satu inovasi yang mendapat perhatian. Program tersebut dicanangkan sebagai desa inovasi dengan memperkenalkan hasil-hasil riset mengenai ikan nila kepada masyarakat.

Melalui program Kampung Nila, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan di lingkungan akademis atau lembaga penelitian. Informasi dan teknologi yang dihasilkan perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar dapat dipahami serta diterapkan secara langsung dalam kegiatan budidaya.

Penerapan hasil riset tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya meningkatkan kualitas dan produksi ikan nila. Dengan pemanfaatan pengetahuan yang sesuai, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengembangkan kegiatan usaha berdasarkan informasi dan teknologi yang telah diperkenalkan.

Kampung Nila dan Mina Ngremboko menjadi dua contoh pendekatan pengembangan perikanan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Mina Ngremboko memperlihatkan peran kawasan budidaya sekaligus pusat pelatihan, sedangkan Kampung Nila menekankan pengenalan dan penerapan hasil riset kepada masyarakat.

Inovasi Sleman Menjadi Rujukan Pengembangan Perikanan

Menurut Kusdiantoro, berbagai inovasi yang berkembang di Kabupaten Sleman telah menjadi rujukan dan proyek percontohan atau pilot project bagi wilayah lain di Indonesia. Sejumlah pendekatan tersebut mulai diterapkan di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan produksi ikan.

Pengembangan inovasi perikanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pertanian dan perikanan.

Kusdiantoro menjelaskan bahwa Kabupaten Sleman memiliki sejumlah modal penting dalam mengembangkan sektor tersebut. Pertama, terdapat visi yang jelas dalam mengarahkan masyarakat pada kegiatan pertanian dan perikanan. Kedua, masyarakat telah memiliki minat dan ketertarikan terhadap kedua bidang tersebut.

Ketiga, masyarakat telah melakukan tindakan nyata melalui penerapan berbagai kegiatan, bukan hanya berhenti pada pembahasan teori. Keempat, terdapat kolaborasi yang mendukung pelaksanaan berbagai inovasi.

“Ketiga sudah action bukan lagi teoritis tapi sudah menerapkan, contohnya sudah ada. Dan terakhir sudah melakukan kolaborasi,” katanya.

Empat hal tersebut menggambarkan pentingnya keterkaitan antara arah pembangunan, partisipasi masyarakat, penerapan inovasi, dan kerja sama berbagai pihak. Pengembangan sektor perikanan membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus dukungan dari pemerintah, lembaga penelitian, dan pihak terkait lainnya.

Selain itu, diselenggarakan pula Temu Usaha Pertanian, Pangan, Perikanan dan Kehutanan. Berbagai perlombaan turut menjadi bagian dari kegiatan, antara lain Lomba Stand Pameran, Lomba Kreasi Taman Sayur Mini, serta Lomba Gelar Karya atau Temu Teknologi.

Kegiatan lainnya mencakup display teknologi produksi pertanian, pangan, dan perikanan serta Lantip Trengginas KTNA DIY. Peserta juga mengikuti kegiatan luar ruang, seperti outbound kesadaran lingkungan dan keakraban, festival dan lomba kesenian, Festival Memedi Sawah, kerja bakti, senam sehat massal, serta penanaman tanaman penghijauan.

Tingkat Kelangsungan Hidup Lele Sangkuriang di P2MKP

 

 

Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan yang telah lama dibudidayakan masyarakat. Kecepatan pertumbuhannya dan kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan menjadi beberapa alasan ikan ini banyak dikembangkan dalam kegiatan perikanan budidaya. Salah satu jenis yang dibudidayakan adalah lele Sangkuriang.

Dalam kegiatan budidaya lele, keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh proses pembesaran hingga masa panen. Tahap pendederan juga memiliki peran penting karena pada fase ini benih ikan masih rentan mengalami kematian. Oleh sebab itu, pengelolaan pendederan perlu mendapat perhatian agar benih dapat tumbuh dan bertahan hidup hingga memasuki tahap pemeliharaan berikutnya.

Pelajari Selanjutnya : KKP Apresiasi Inovasi Pengembangan Perikanan dan Budidaya

Budidaya Lele Sangkuriang dan Potensi Pengembangannya

Lele Sangkuriang menjadi salah satu komoditas yang menarik untuk dikembangkan dalam usaha perikanan budidaya. Ikan ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Selain itu, kandungan gizinya, siklus hidup yang relatif singkat, serta permintaan pasar yang terus meningkat menjadikannya komoditas yang banyak dibudidayakan.

Secara umum, kegiatan budidaya lele terdiri atas beberapa tahapan, yaitu pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Setiap tahapan memiliki tujuan dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Pembenihan berkaitan dengan penyediaan benih, pendederan berfokus pada pemeliharaan benih agar tumbuh, sedangkan pembesaran dilakukan untuk menghasilkan ikan sesuai ukuran yang dibutuhkan pasar.

Di antara tahapan tersebut, pendederan merupakan fase yang perlu diperhatikan secara khusus. Benih lele yang masih berukuran kecil memiliki kerentanan terhadap perubahan lingkungan, serangan penyakit, serta pengelolaan pakan yang kurang tepat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah benih yang mampu bertahan selama pemeliharaan.

Karena itu, proses pendederan membutuhkan pengelolaan yang terarah. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini meliputi kualitas air, kepadatan tebar, jenis pakan, dan manajemen pemeliharaan. Aspek-aspek tersebut merupakan bagian penting dalam menciptakan kondisi pemeliharaan yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih.

Pendederan sebagai Tahap Kritis Pemeliharaan

Pendederan merupakan tahap penting dalam rangkaian produksi budidaya lele. Pada fase ini, benih dipelihara agar mengalami pertumbuhan sebelum dipindahkan ke tahap pembesaran. Keberhasilan pendederan dapat dilihat antara lain dari jumlah ikan yang mampu bertahan hidup sampai akhir masa pemeliharaan.

Tingkat kelangsungan hidup atau survival rate merupakan persentase jumlah ikan yang masih hidup pada akhir pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah ikan yang ditebar pada awal kegiatan. Parameter ini digunakan untuk menggambarkan tingkat keberhasilan pemeliharaan dari sisi kemampuan ikan bertahan hidup.

Dalam penelitian di P2MKP Aquaculture Farm Kabupaten Tebo, jumlah benih yang ditebar tercatat sebanyak 30.100 ekor. Jumlah tersebut menjadi populasi awal dalam kegiatan pendederan yang diamati.

Pengelolaan jumlah benih yang ditebar perlu dilakukan secara cermat. Kepadatan tebar menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi lingkungan pemeliharaan dan pengelolaan ikan. Selain itu, kualitas air, pemberian pakan, serta pemantauan kondisi benih juga merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan yang tidak dapat diabaikan.

Penelitian terhadap tingkat kelangsungan hidup menjadi penting karena dapat memberikan informasi mengenai hasil pemeliharaan selama fase pendederan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memahami kondisi produksi dan menentukan aspek pengelolaan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Pengamatan Pertumbuhan Benih Lele Sangkuriang

Selain mengamati tingkat kelangsungan hidup, penelitian ini juga memperhatikan pertumbuhan benih lele Sangkuriang. Pertumbuhan merupakan perubahan ukuran tubuh ikan, baik berat, panjang, maupun volume dalam kurun waktu tertentu.

Pengamatan pertumbuhan dan panjang benih dilakukan setiap satu minggu selama masa pemeliharaan. Sampel yang digunakan dalam pengamatan berjumlah 30 ekor benih ikan lele. Pengukuran panjang dilakukan menggunakan penggaris, sedangkan pengukuran bobot dilakukan dengan bantuan timbangan digital.

Pengamatan secara berkala tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan ukuran benih selama pemeliharaan. Data panjang dan bobot menjadi parameter yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan pertumbuhan ikan.

Dalam kegiatan penebaran, jumlah benih yang digunakan tercatat sebanyak 30.100 ekor. Proses penghitungan dilakukan melalui penimbangan benih dan pengalian hasilnya dengan faktor empat untuk memperoleh perkiraan jumlah 1.000 ekor, kemudian pengulangan dilakukan hingga diperoleh jumlah benih yang akan ditebar.

Berdasarkan hasil penelitian yang tersedia, pertumbuhan bobot mutlak lele Sangkuriang mencapai 0,83 gram, sedangkan pertumbuhan panjang mutlak mencapai 5,60 sentimeter. Kedua angka tersebut merupakan hasil pengamatan pertumbuhan selama masa pemeliharaan yang dilaporkan dalam penelitian.

P2MKP IPSA Bali Gelar Webinar Teknologi Fermentasi

BALI – Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Institusi Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali kembali menyelenggarakan kegiatan webinar dengan mengusung tema teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas wawasan dan pengetahuan pelaku usaha perikanan mengenai pemanfaatan teknologi fermentasi dalam kegiatan budidaya.

Webinar tersebut menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi industri dan akademisi. Melalui kegiatan berbasis daring ini, peserta diharapkan memperoleh tambahan informasi mengenai teknologi fermentasi serta penerapannya dalam bidang perikanan.

Teknologi fermentasi menjadi salah satu topik yang menarik untuk dibahas dalam kegiatan budidaya perikanan. Pembahasan mengenai teknologi ini dapat memberikan wawasan bagi pelaku usaha yang sehari-hari berkegiatan dengan air dan ikan, terutama dalam memahami berbagai pendekatan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan usaha budidaya.

Pahami Lebih Lanjut : Tingkat Kelangsungan Hidup Lele Sangkuriang di P2MKP

Hadirkan Narasumber dari Praktisi dan Akademisi

Dalam kegiatan webinar tersebut, salah satu narasumber yang disebutkan adalah Irkham Rosidi, Kepala Pemasaran PT Songgolangit Persada Cabang Bali. Kehadiran narasumber dari kalangan praktisi industri diharapkan dapat memberikan sudut pandang mengenai pemanfaatan teknologi fermentasi dalam kegiatan usaha.

Selain itu, webinar juga menghadirkan dosen Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Keterlibatan akademisi dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan pelaku usaha perikanan.

Perpaduan perspektif praktisi dan akademisi dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan bagi peserta. Praktisi dapat memberikan gambaran dari sisi kegiatan usaha, sedangkan akademisi dapat memperkaya pembahasan melalui pendekatan keilmuan di bidang akuakultur.

Dengan menghadirkan narasumber dari latar belakang yang berbeda, webinar ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai topik teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan.

Memperluas Wawasan Pelaku Usaha Budidaya Perikanan

Kegiatan webinar yang diselenggarakan P2MKP IPSA Bali ditujukan untuk memberikan manfaat bagi pelaku usaha budidaya perikanan maupun pihak yang dalam aktivitas sehari-harinya berhubungan dengan air dan ikan.

Melalui forum diskusi daring, peserta memiliki kesempatan untuk memperoleh informasi tanpa harus hadir secara langsung di lokasi penyelenggara. Model kegiatan seperti ini juga memungkinkan penyebaran pengetahuan kepada pelaku usaha yang berada di berbagai tempat.

Pembahasan teknologi fermentasi diharapkan dapat menambah wawasan peserta dalam mengenali perkembangan teknologi yang berkaitan dengan kegiatan budidaya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami berbagai kemungkinan penerapan teknologi dalam pengelolaan usaha perikanan.

Bagi pelaku usaha, peningkatan pengetahuan merupakan salah satu bagian penting dalam mengembangkan kegiatan budidaya. Pemahaman terhadap teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan dapat membantu mereka mengikuti dinamika sektor perikanan serta mempertimbangkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan usaha masing-masing.

P2MKP IPSA Bali Dorong Pengembangan Pengetahuan Perikanan

Penyelenggaraan webinar teknologi fermentasi ini menjadi bagian dari kegiatan P2MKP IPSA Bali dalam menyediakan ruang pembelajaran bagi masyarakat perikanan. Kegiatan pelatihan dan berbagi pengetahuan merupakan sarana untuk mempertemukan pelaku usaha, praktisi, dan akademisi dalam membahas berbagai topik yang relevan dengan pengembangan sektor perikanan.

Melalui kegiatan tersebut, P2MKP IPSA Bali turut membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengenal perkembangan teknologi yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjalankan kegiatan budidaya.

Webinar dengan tema teknologi fermentasi untuk budidaya perikanan ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi peserta. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk terus belajar dan memahami perkembangan teknologi dalam kegiatan usaha perikanan.

Dengan menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi, kegiatan ini menjadi ruang pertukaran informasi yang mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat perikanan. P2MKP IPSA Bali diharapkan dapat terus berperan dalam mendorong kegiatan pembelajaran dan pengembangan kapasitas pelaku usaha budidaya perikanan.

Teknologi Fermentasi untuk Budidaya Perikanan” untuk membahas efisiensi biaya pakan yang mencakup 60–80% dari total biaya produksi. Kegiatan ini memaparkan penggunaan teknologi fermentasi EM4 guna melembutkan tekstur pakan, mempercepat penyerapan protein, dan meningkatkan kualitas hasil budidaya ikan

Webinar digelar P2MKP IPSA BALI diharapkan dapat berguna bagi peserta mengenai teknologi fermentasi untuk budidaya ikan perikanan. Webinar diakhiri dengan sesi Tanya jawab, dan seluruh peserta mendapatkan E Sertifikat, beberapa peserta beruntung mendapatkan marchandise dari penyelenggara.

DKPP Agam Gelar Pelatihan Teknis Budidaya Ikan bagi Pokdakan

   

AGAM – Dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya ikan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP). Kabupaten Agam menyelenggarakan kegiatan Temu Lapang/Pembekalan Teknis bagi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Penerima paket bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 15 Agustus 2024, bertempat di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Sangkuriang Jaya Agam, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang. Pelatihan diikuti oleh 20 pembudidaya ikan yang berasal dari tiga kelompok pembudidaya ikan.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain memperoleh bantuan fasilitas, kelompok penerima juga perlu memiliki pengetahuan teknis. Kemampuan pengelolaan kelompok agar kegiatan budidaya dapat berjalan dengan baik.

Baca Selengkapnya :  P2MKP IPSA Bali Gelar Webinar Teknologi Fermentasi

Pembukaan Dihadiri Unsur Pemerintah dan Penyuluh Perikanan

Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam beserta jajaran Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap. Hadir pula Camat Tilatang Kamang, para wali nagari se-Kecamatan Tilatang Kamang, serta seluruh penyuluh perikanan wilayah Agam bagian Timur.

Kehadiran unsur pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, dan penyuluh perikanan. Ini menunjukkan dukungan terhadap pengembangan kegiatan budidaya ikan Agam. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar program bantuan yang diberikan tidak hanya berhenti pada penyerahan sarana dan prasarana, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi kelompok penerima.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pembekalan teknis. Materi disampaikan oleh tiga narasumber yang memiliki latar belakang dan bidang keahlian berbeda, sehingga peserta mendapatkan pembekalan dari sisi teknis budidaya, pemahaman petunjuk pelaksanaan bantuan, hingga pengelolaan kelembagaan kelompok.

Narasumber pertama adalah Doni Afdison, S.Pi., selaku Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap DKPP Kabupaten Agam. Ia menyampaikan materi mengenai penjelasan petunjuk teknis kepada kelompok penerima paket bantuan budidaya.

Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai petunjuk teknis yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan bantuan sarana dan prasarana. Pemahaman terhadap ketentuan bantuan menjadi hal penting agar fasilitas yang diterima dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya.

Kepala DKPP Agam Tekankan Pemanfaatan Bantuan DAK

Narasumber kedua, Elfiyanto, S.E., yang merupakan praktisi budidaya sekaligus pengelola P2MKP Sangkuriang Jaya Agam, menyampaikan materi tentang teknis budidaya ikan air tawar. Materi ini berkaitan langsung dengan kegiatan utama para peserta sebagai pembudidaya ikan.

Melalui pembekalan teknis tersebut, peserta memperoleh tambahan pengetahuan mengenai kegiatan budidaya ikan air tawar. Pengetahuan teknis menjadi salah satu bekal yang dibutuhkan kelompok untuk menjalankan usaha budidaya dengan memanfaatkan sarana dan prasarana bantuan secara tepat.

Selanjutnya, Toguan Sihombing, S.Pi., selaku Penyuluh Perikanan Kabupaten Agam, menyampaikan materi mengenai penguatan kelembagaan dan permodalan serta dinamika kelompok. Materi ini menyoroti pentingnya kemampuan kelompok dalam mengelola organisasi, membangun kerja sama antaranggota, dan memahami aspek permodalan.

Ketiga materi tersebut saling melengkapi. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai kegiatan teknis budidaya, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang aturan pemanfaatan bantuan dan penguatan kelompok sebagai wadah pengembangan usaha perikanan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut diberikan kepada Pokdakan yang menerima bantuan sarana dan prasarana budidaya ikan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024.

Camat Tilatang Kamang Dukung Pengembangan Pokdakan

Ia berharap kelompok penerima dapat memanfaatkan bantuan yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung kemajuan kelompok. Bantuan sarana dan prasarana tersebut diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pendukung, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kegiatan budidaya ikan di wilayah penerima.

Rosva juga menyampaikan harapan agar bantuan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah, terutama di Kecamatan Tilatang Kamang. Pengembangan kegiatan budidaya ikan dinilai memiliki keterkaitan dengan ketersediaan pangan dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain mendukung ketahanan pangan, program bantuan tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting dan program pengentasan kemiskinan. Dengan pemanfaatan bantuan secara optimal, kelompok pembudidaya diharapkan mampu mengembangkan kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat sekitar.

Senada dengan Kepala DKPP Kabupaten Agam, Camat Tilatang Kamang, Noviardi Ismail, S.Sos., juga menyampaikan harapannya agar masyarakat penerima bantuan dapat mengembangkan fasilitas yang telah diterima.

Menurut harapan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, dukungan pemerintah melalui bantuan sarana dan prasarana perlu diikuti dengan kesungguhan kelompok dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan budidaya.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan memberikan hasil bagi kelompok penerima.

Siswa SMAN 1 Taman Belajar Kewirausahaan Perikanan di P2MKP

 

SIDOARJO – Suasana Sabtu pagi di SMA Negeri 1 Taman (SMANITA) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah siswa kelas XI mengikuti kegiatan pembelajaran di luar sekolah dengan mengunjungi Pusat Pelatihan dan Kemandirian Perikanan (P2MKP) Fish Boster Centre di Sedati, Sidoarjo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema kewirausahaan.

Rombongan siswa mulai berangkat dari SMAN 1 Taman sekitar pukul 07.15 WIB menuju Fish Boster Centre. Sementara itu, sejak pukul 07.00 WIB, sejumlah siswa telah berdatangan di lokasi. Ada yang diantar oleh keluarga, sementara sebagian lainnya datang secara mandiri dengan menggunakan sepeda motor.

Baca Juga : DKPP Agam Gelar Pelatihan Teknis Budidaya Ikan bagi Pokdakan

Mengenal Dunia Usaha Perikanan di Fish Boster Centre

P2MKP Fish Boster Centre merupakan lembaga pelatihan di bidang budidaya ikan air tawar yang berlokasi di Sedati, Sidoarjo. Salah satu bidang yang menjadi perhatian lembaga ini adalah budidaya ikan lele.

Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan siswa SMANITA tiba di lokasi dengan menggunakan sejumlah kendaraan angkutan. Setibanya di pusat pelatihan, para siswa segera menuju halaman tengah dan disambut oleh pemandu atau tour guide Fish Boster Centre.

Kegiatan kunjungan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan pusat pelatihan. Para siswa diajak melakukan observasi terhadap berbagai aktivitas usaha perikanan, mulai dari proses pembibitan ikan, pembesaran, hingga pengolahan hasil perikanan.

Melalui pengamatan langsung tersebut, siswa dapat melihat bahwa usaha perikanan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memelihara ikan sampai siap panen. Di dalamnya terdapat rangkaian proses yang saling berhubungan, mulai dari penyediaan benih, pemeliharaan, pengelolaan pakan, hingga pengolahan hasil menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Selain mengenal budidaya ikan, para siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai cara bertanam menggunakan sistem hidroponik. Mereka diperkenalkan pula dengan akuaponik dan budidamber, yaitu budidaya ikan lele dalam ember. Berbagai metode tersebut memberikan gambaran tentang pemanfaatan lahan dan sumber daya secara lebih praktis.

Belajar Hidroponik, Akuaponik, dan Budidaya Ikan

Salah satu hal yang diperkenalkan dalam kunjungan tersebut adalah keterkaitan antara kegiatan perikanan dan pertanian. Hidroponik menjadi contoh metode bercocok tanam yang tidak menggunakan tanah sebagai media utama, sedangkan akuaponik menggabungkan kegiatan pemeliharaan ikan dengan penanaman sayuran dalam satu sistem.

Para siswa juga dikenalkan dengan budidamber atau budidaya ikan dalam ember. Metode ini memberikan gambaran bahwa kegiatan budidaya ikan dapat dilakukan dalam skala sederhana, termasuk dengan memanfaatkan ruang yang terbatas.

Selain itu, Fish Boster Centre memperkenalkan proses pembibitan ikan lele, nila, dan patin. Para siswa dapat mengamati tahapan usaha perikanan dari sisi pembibitan hingga pembesaran. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari pengenalan rantai kegiatan usaha yang dapat dikembangkan menjadi peluang kewirausahaan.

Aspek lain yang diperkenalkan adalah pembuatan pakan ikan secara mandiri. Pengetahuan mengenai pakan menjadi salah satu bagian penting dalam budidaya karena berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan ikan. Dengan mengenal proses pembuatan pakan, siswa memperoleh wawasan bahwa usaha perikanan juga membutuhkan pemahaman mengenai kebutuhan produksi dan pengelolaan usaha.

Kepala SMA Negeri 1 Taman, Dewi Nurmalasari, M.Pd., turut hadir dalam kegiatan kunjungan tersebut. Ia menyampaikan bahwa banyak pengetahuan yang dapat diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran langsung di Fish Boster Centre.

“Banyak hal yang bisa didapat anak-anak setelah kunjungan di Fish Boster Centre ini. Pengetahuan tentang hidroponik, akuaponik, pembuatan pakan ikan secara mandiri, pembibitan ikan lele, nila dan patin hingga pembesaran serta pengolahannya. Diharapkan setelah kegiatan ini, anak-anak punya bekal selain wawasan juga kemauan untuk menerapkan di rumahnya masing-masing. Walau dalam skala kecil,” urai Dewi Nurmalasari.

Kepala SMAN 1 Taman Berharap Siswa Menerapkan Ilmu

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan kunjungan tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka agar memiliki kemauan untuk mencoba menerapkan ilmu yang diperoleh. Penerapan dalam skala kecil di lingkungan rumah dapat menjadi langkah awal untuk mengenal kegiatan produktif dan membangun jiwa kewirausahaan.

Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa peluang usaha dapat dipelajari dari berbagai bidang, termasuk perikanan dan budidaya tanaman. Pengetahuan yang diperoleh secara langsung juga dapat membantu siswa mengenali proses usaha, kebutuhan kegiatan produksi, serta kemungkinan pengembangan produk.

Kunjungan ke Fish Boster Centre menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual dalam pelaksanaan P5 bertema kewirausahaan. Dengan mendatangi tempat pelatihan dan usaha secara langsung, siswa memperoleh pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.

Mereka tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga melihat proses budidaya dan pengolahan hasil perikanan secara nyata. Pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan mengenai berbagai jenis usaha yang berpotensi dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar.

Pelayanan yang ramah dan bersahabat dari pihak Fish Boster Centre turut mendukung jalannya kegiatan. Dengan tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang, pengunjung dapat memperoleh pengetahuan mengenai usaha perikanan dan cara budidaya sayuran.

Kegiatan ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan. Para siswa SMANITA mendapatkan kesempatan untuk mengenal budidaya ikan, pengolahan hasil perikanan, hidroponik, akuaponik, serta budidamber sebagai bagian dari wawasan usaha produktif.