P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau

 

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menyelenggarakan pelatihan budidaya kepiting bakau yang telah direncanakan sejak awal tahun. Kegiatan tersebut akhirnya dapat terlaksana dengan melibatkan 20 peserta yang berasal dari Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera dan petugas taman nasional.

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya anggota Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera. Program tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengembangkan alternatif mata pencaharian bagi anggota kelompok nelayan yang sebelumnya merupakan pengguna alat tangkap muroami.

Informasi Lebih Lanjut : P2MKP Mina Raya Gelar Pelatihan Pemijahan Ikan Bawal

Potensi Mangrove Pulau Pramuka untuk Budidaya Kepiting Bakau

Wilayah mangrove yang berada di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Pulau Pramuka dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai area budidaya kepiting bakau. Keberadaan ekosistem mangrove menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kegiatan pembesaran kepiting Bakau di kawasan tersebut.

Sebelum kegiatan budidaya dilaksanakan, dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan kimia air di area mangrove. Pengujian tersebut dilakukan melalui Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sejumlah parameter kualitas air, meliputi tingkat keasaman atau pH, salinitas, suhu, kandungan nitrit dan nitrat, serta bahan organik, telah sesuai dengan baku mutu untuk kegiatan budidaya kepiting.

Hasil tersebut menjadi salah satu dasar yang mendukung pemanfaatan kawasan mangrove sebagai lokasi pengembangan budidaya kepiting bakau. Kesesuaian parameter kualitas air merupakan aspek yang perlu diperhatikan karena kondisi lingkungan perairan berkaitan dengan keberhasilan pemeliharaan kepiting.

Potensi tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat pesisir melalui usaha pembesaran kepiting bakau. Dengan memanfaatkan sumber daya perairan secara terbatas sesuai skema kemitraan konservasi, masyarakat diharapkan dapat memperoleh alternatif penghasilan sekaligus memahami pentingnya pengelolaan kawasan secara bertanggung jawab.

Peserta Pelajari Sistem Aquasilviculture dan Teknik Pembesaran Kepiting

Selain materi pemberdayaan ekonomi, pelatihan juga menghadirkan pakar perikanan dan kelautan yang memberikan pembekalan mengenai teknik budidaya kepiting bakau menggunakan sistem aquasilviculture.

Sistem tersebut menjadi salah satu materi penting dalam pelatihan karena berkaitan dengan pengembangan kegiatan budidaya di kawasan yang memiliki ekosistem mangrove. Peserta diperkenalkan dengan pendekatan budidaya yang mengintegrasikan kegiatan perikanan dan lingkungan mangrove.

Antusiasme peserta semakin meningkat ketika memasuki sesi praktik budidaya. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari metode konvensional pembesaran kepiting, termasuk pemberian pakan dan penghitungan bobot kepiting.

Praktik pemberian pakan menjadi bagian dari kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan secara teratur. Peserta juga diperkenalkan dengan cara memperhatikan bobot kepiting sebagai salah satu aspek dalam memantau perkembangan selama masa pembesaran.

Pengetahuan mengenai teknik pemeliharaan tersebut diharapkan dapat membantu nelayan memahami tahapan budidaya secara lebih baik. Dengan menggabungkan materi teori dan praktik, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenali proses pembesaran kepiting secara langsung.

Sebagai hasil kegiatan pelatihan, dibentuk demplot budidaya yang berisi 200 ekor kepiting bakau berusia sekitar 30–40 hari. Demplot tersebut selanjutnya akan dipelihara oleh para nelayan melalui sistem piket.

Pemberian pakan direncanakan berlangsung selama kurang lebih dua bulan hingga kepiting bakau mencapai ukuran siap panen. Selama masa pemeliharaan, peserta perlu memperhatikan kondisi kepiting dan menjalankan kegiatan pemberian pakan sesuai kebutuhan budidaya.

Selain pemberian pakan, pencatatan jumlah kepiting yang mengalami kematian juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan demplot. Setiap kematian kepiting harus dicatat secara cermat pada blanko yang telah disediakan.

Pelatihan Tingkatkan Kapasitas dan Produktivitas Nelayan

Program pelatihan penerapan budidaya kepiting bakau ini dilaporkan berhasil meningkatkan kapasitas peserta secara signifikan. Peningkatan tersebut tercermin dari kompetensi teknis peserta dalam berbagai aspek materi pelatihan.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat mendukung kemampuan nelayan dalam menjalankan budidaya secara lebih terarah. Materi mengenai sistem aquasilviculture, pemberian pakan, penghitungan bobot, serta pencatatan kematian menjadi bekal dalam pengelolaan usaha pembesaran kepiting.

Dampak ekonomi yang dilaporkan juga terlihat dari peningkatan pendapatan anggota kelompok yang mencapai sembilan kali lipat. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan terciptanya nilai tambah melalui perbaikan kualitas produk dan perencanaan produksi yang lebih baik.

Capaian tersebut menjadi gambaran potensi budidaya kepiting bakau sebagai alternatif kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Melalui peningkatan keterampilan teknis, pengelolaan produksi, dan pemanfaatan sumber daya perairan secara terbatas, kelompok nelayan memiliki kesempatan untuk mengembangkan sumber pendapatan baru.

Pengembangan budidaya kepiting bakau diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya perairan yang sesuai dengan ketentuan kemitraan konservasi.

Kapuslatluh KP Tinjau P2MKP Karya Lestari Tetap Eksis

 

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Kapuslatluh KP). Lily Aprilya Pregiwati, melakukan kunjungan ke Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Karya Lestari di Tabanan, Bali, pada Sabtu, 12 Desember 2020. Kunjungan tersebut dilakukan untuk tinjau P2MKP bahwa masih menjadi bagian dari binaan Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan lembaga pelatihan mandiri tersebut.

Termasuk berbagai kegiatan yang masih dilaksanakan dan hambatan yang dihadapi. Keberlangsungan P2MKP menjadi perhatian karena lembaga tersebut memiliki peran dalam mendukung peningkatan keterampilan masyarakat, khususnya di bidang pengolahan hasil perikanan.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau

Kapuslatluh KP Dorong P2MKP Terus Mempertahankan Eksistensi

Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui lembaga mana saja yang masih eksis dan dapat dikukuhkan kembali. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan P2MKP sebagai lembaga pelatihan mandiri di bidang kelautan dan perikanan.

Melalui kunjungan tersebut, Kapuslatluh KP ingin mengetahui secara langsung berbagai kondisi yang dihadapi P2MKP. Informasi mengenai kendala di lapangan diperlukan agar pihak terkait dapat melihat bentuk dukungan yang memungkinkan diberikan untuk membantu lembaga tetap berkembang.

Harapan agar P2MKP Karya Lestari dapat mempertahankan eksistensinya juga menunjukkan pentingnya kesinambungan kegiatan pelatihan. Keberadaan lembaga yang tetap aktif diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang bergerak dalam pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Pendampingan tersebut juga berkaitan dengan pengembangan kelompok pengolahan dan pemasaran hasil perikanan atau Poklahsar. Kelompok ini menjadi salah satu unsur masyarakat yang bergerak dalam mengolah serta memasarkan produk hasil perikanan.

Dengan dukungan penyuluh, kelompok pengolahan dan pemasaran diharapkan dapat memperoleh pendampingan dalam mengembangkan produk. Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas produk serta penguatan pemasaran agar hasil olahan perikanan memiliki peluang untuk berkembang.

Dalam laporan kepada Kapuslatluh KP, Ketua P2MKP Karya Lestari, Ni Made Putriningsih Mirna, menyampaikan sejarah berdirinya lembaga tersebut. P2MKP Karya Lestari mulai berdiri pada 2012, yang diawali dari pembentukan Kelompok Pengolahan dan Pemasaran (Poklahsar) Karya Lestari pada 2010.

Menghasilkan Beragam Produk Olahan Perikanan

Pembentukan kelompok tersebut menjadi langkah awal dalam mengembangkan kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Seiring berjalannya waktu, kegiatan kelompok berkembang hingga kemudian menjadi bagian dari pembentukan P2MKP Karya Lestari.

Keberadaan P2MKP Karya Lestari menjadi wadah bagi kegiatan pelatihan pengolahan hasil perikanan.

Melalui lembaga ini, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai pengolahan berbagai jenis bahan baku perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Produk yang dihasilkan Poklahsar Karya Lestari meliputi nugget, bakso, siomay, keong mas, kerupuk kulit ikan, stik, abon, teriwijen, keripik gurih, kaki naga, koktail, dan jus rumput laut.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan kegiatan pengolahan hasil perikanan yang dikembangkan oleh kelompok. Bahan baku perikanan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan dengan bentuk dan karakteristik yang berbeda.

Pengembangan produk olahan juga menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Melalui proses pengolahan, bahan baku dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki bentuk penyajian lebih beragam dan dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari wilayah Tabanan, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan yang diselenggarakan P2MKP Karya Lestari telah menjangkau masyarakat dari berbagai wilayah.

Kunjungan Menjadi Dorongan bagi Keberlanjutan P2MKP Karya Lestari

Kunjungan Kapuslatluh KP, selain memastikan eksistensi lembaga, kunjungan tersebut juga menjadi sarana untuk mengetahui kendala yang dihadapi serta perkembangan kegiatan pengolahan hasil perikanan.

Keberadaan P2MKP Karya Lestari yang telah berkembang sejak pembentukan Poklahsar pada 2010 hingga menjadi P2MKP pada 2012 memperlihatkan kesinambungan kegiatan kelompok dalam bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Dengan 12 jenis produk yang dihasilkan serta pengalaman melatih ribuan peserta dari Tabanan dan berbagai daerah di Bali, Karya Lestari memiliki peran dalam mendukung peningkatan keterampilan masyarakat di sektor perikanan.

Harapan Kapuslatluh KP agar P2MKP Karya Lestari terus mempertahankan eksistensi dan berkembang ke depan menjadi dorongan bagi keberlanjutan lembaga tersebut.

Dukungan terhadap P2MKP, pendampingan penyuluh perikanan, serta pengembangan produk Poklahsar diharapkan dapat memperkuat kegiatan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kelautan dan perikanan.

P2MKP Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar Fish Boster Centre

 

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo menyelenggarakan pelatihan teknis budidaya ikan air tawar di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Fish Boster Centre, Sidoarjo, pada 23–25 Juli 2024. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Pelatihan ini diikuti oleh pendamping teknis dan para pembudidaya ikan. Kegiatan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta dalam mengelola usaha budidaya ikan air tawar, mulai dari persiapan kolam, pemeliharaan ikan, pengelolaan pakan, hingga penanganan hasil panen.

Telusuri Selengkapnya : Kapuslatluh KP Tinjau P2MKP Karya Lestari Tetap Eksis

Hari Pertama: Pembukaan dan Penyampaian Materi Budidaya Ikan

Pelatihan dimulai pada Selasa. Kegiatan hari pertama diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo serta sambutan Direktur PT Indosco Dwi Jaya Sakti sebagai perwakilan dari Fish Boster Centre.

Ia berharap ilmu dan keterampilan yang didapatkan selama pelatihan dapat mendukung perkembangan usaha budidaya ikan di daerah tersebut. Dengan demikian, kegiatan pelatihan tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian sejumlah materi teknis. Materi pertama membahas budidaya ikan lele dengan sistem yang disampaikan oleh Akhmad Fauzan Arifin, Teknisi Budidaya Ikan Air Tawar P2MKP Fish Boster Centre.

Hari Kedua: Praktik Pengelolaan Kolam dan Kualitas Air

Memasuki hari kedua, Pelatihan difokuskan pada kegiatan praktik langsung. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai tahapan teknis yang berkaitan dengan pengelolaan media budidaya dan pemeliharaan ikan.

Praktik yang dilakukan meliputi pembuatan fermentasi, persiapan kolam, manajemen pemberian pakan ikan, serta pengelolaan kualitas air. Materi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan budidaya karena kondisi kolam dan kualitas air berkaitan dengan lingkungan tempat ikan dipelihara.

Persiapan kolam merupakan salah satu tahapan awal yang perlu diperhatikan sebelum kegiatan budidaya dimulai. Peserta mempelajari proses persiapan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan kondisi media pemeliharaan yang sesuai untuk ikan.

Selain itu, manajemen pakan juga menjadi perhatian dalam praktik hari kedua. Pemberian pakan merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan yang perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan ikan selama masa pertumbuhan dapat diperhatikan.

Pada hari kedua, peserta juga mengikuti proses grading dan panen. Kegiatan grading dilakukan untuk membantu memastikan keseragaman ukuran ikan, sedangkan praktik panen memberikan pengalaman mengenai tahapan akhir dalam proses produksi budidaya.

Melalui rangkaian praktik tersebut, peserta dapat mengenali berbagai kegiatan teknis yang diperlukan dalam pengelolaan usaha perikanan air tawar.

Hari Ketiga: Praktik Penebaran Benih dan Pengolahan Hasil Perikanan

Praktik penebaran fermentasi dilakukan sebagai bagian dari persiapan air kolam sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya. Peserta juga mempelajari proses aklimatisasi sebelum penebaran bibit ikan. Tahapan ini menjadi bagian dari pengenalan prosedur penebaran benih agar peserta memahami proses penyesuaian ikan terhadap kondisi lingkungan kolam.

Selain praktik budidaya, peserta mendapatkan pengalaman mengenai pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan fillet ikan lele. Materi ini memperkenalkan aspek pascapanen sebagai bagian dari rangkaian kegiatan perikanan.

Pengolahan fillet menjadi salah satu materi yang melengkapi pembelajaran peserta. Dengan adanya materi tersebut, pelatihan tidak hanya membahas proses pemeliharaan ikan sampai panen, tetapi juga memperkenalkan pengolahan hasil setelah ikan dipanen.

Rangkaian praktik pada hari ketiga dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai berbagai tahapan kegiatan budidaya ikan air tawar. Mulai dari persiapan media pemeliharaan, penebaran benih, proses budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan.

Materi mengenai budidaya ikan lele dan nila, pembuatan pakan mandiri, pengendalian hama dan penyakit, serta pengelolaan kualitas air menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan kegiatan usaha perikanan. Sementara itu, praktik persiapan kolam, grading, panen, dan penebaran benih memberikan pengalaman langsung mengenai tahapan teknis budidaya.

Melalui penyelenggaraan pelatihan di P2MKP Fish Boster Centre, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo berharap para pembudidaya dapat mengembangkan usaha secara lebih baik dan produktif.

Pada akhirnya, peningkatan kemampuan sumber daya manusia di sektor perikanan diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya di Kota Probolinggo. Upaya tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap ketersediaan pangan, penguatan ketahanan pangan, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

P2MKP Karya Lestari Latih Pegawai Olah Frozen Food

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Karya Lestari, Tabanan, memberikan pelatihan kepada peserta Workshop Pembekalan Masa Purnabakti Entrepreneurship Bisnis Usaha Aneka Produk Frozen Food berbahan baku ikan. Kegiatan ini merupakan bentuk pembekalan keterampilan kewirausahaan bagi para pegawai yang akan memasuki masa pensiun agar memiliki pengetahuan dan alternatif usaha produktif setelah purnabakti.

Pelatihan dilaksanakan melalui dua sesi pembelajaran, yaitu pembekalan teori dan praktik secara langsung. Pembekalan teori berlangsung di Hotel Primebiz, Kuta, sebagaimana tercantum dalam informasi kegiatan. Sementara itu, kegiatan praktik dilaksanakan di sekretariat dan bangsal pengolahan P2MKP Karya Lestari, Tabanan.

Baca Juga : P2MKP Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar Fish Boster Centre

Materi Teori Membahas Peluang Bisnis Frozen Food

Pada sesi teori, peserta mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan dengan persiapan masa pensiun dan peluang kewirausahaan. Materi yang diberikan antara lain tips menjalani masa pensiun yang sehat, produktif, serta memiliki passive income atau pendapatan pasif.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan potensi bisnis frozen food. Pembahasan mencakup hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan ketika seseorang ingin memulai usaha di bidang makanan beku.

Pembekalan tersebut penting agar peserta memiliki gambaran mengenai langkah awal dalam merintis usaha. Memahami potensi bisnis dapat membantu calon pelaku usaha mengenali pilihan produk yang dapat dikembangkan, sekaligus mempertimbangkan kesiapan sebelum memulai kegiatan usaha.

Materi kewirausahaan juga menjadi pelengkap pembelajaran teknis pengolahan ikan. Dengan demikian, peserta tidak hanya diarahkan untuk mampu membuat produk, tetapi juga mulai memahami bahwa keterampilan produksi perlu didukung dengan perencanaan usaha yang sesuai.

Peserta Praktik Membuat Beragam Produk Olahan Ikan

Setelah mendapatkan pembekalan teori, peserta mengikuti praktik langsung di bangsal pengolahan P2MKP Karya Lestari, Tabanan. Pada sesi ini, peserta diajarkan membuat berbagai jenis produk olahan berbahan baku ikan yang dapat dikembangkan menjadi produk frozen food.

Beberapa produk yang menjadi materi praktik di antaranya bakso ikan, siomay ikan, kaki naga, dan takoyaki. Peserta juga memperoleh pengalaman dalam mengolah bahan baku ikan menjadi produk makanan dengan bentuk dan jenis olahan yang beragam.

Selain produk tersebut, kegiatan praktik juga mencakup pengolahan nugget ikan patin. Hal ini terlihat dari kegiatan Ketua P2MKP Karya Lestari, Ni Made Putriningsih Wirna, yang menyampaikan penjelasan mengenai kerja sama pelatihan di sela-sela praktik pengolahan nugget ikan patin.

Tidak hanya olahan ikan, peserta juga diajarkan membuat jus rumput laut. Menurut Putriningsih Wirna, pengolahan jus rumput laut diberikan sebagai materi tambahan atau bonus. Materi tersebut muncul setelah salah seorang peserta menanyakan tentang produk olahan rumput laut pada saat penyampaian teori.

Keterampilan Pengolahan Ikan sebagai Bekal Memulai Usaha

Putriningsih Wirna menegaskan bahwa setelah mengikuti pelatihan di P2MKP Karya Lestari, peserta diharapkan dapat memilih berbagai produk frozen food sebagai alternatif usaha ketika memasuki masa pensiun.

Menurutnya, aneka produk olahan ikan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha. Peserta dapat mempertimbangkan jenis produk yang paling sesuai dengan potensi masing-masing, sehingga tidak harus menjalankan usaha yang sama.

Beberapa pilihan produk yang dapat dikembangkan antara lain nugget, kaki naga, siomay, takoyaki, dan lele frozen. Berbagai produk tersebut dapat menjadi alternatif bagi peserta yang ingin memulai usaha di bidang makanan beku.

Selain menentukan jenis produk, peserta juga diharapkan mampu menghitung dan menganalisis usaha yang akan dipilih. Perhitungan dan analisis diperlukan untuk mempertimbangkan kelayakan serta potensi keuntungan dari usaha frozen food yang akan dijalankan.

Pelaksanaan pelatihan selama empat hari ini menjadi bagian dari kerja sama P2MKP Karya Lestari Tabanan dengan PT MEI Yogyakarta dalam memberikan pembekalan keterampilan pengolahan hasil perikanan. Kepercayaan yang kembali diberikan kepada P2MKP Karya Lestari juga menunjukkan keterlibatan lembaga tersebut dalam kegiatan pelatihan pengolahan ikan.

Melalui kombinasi pembelajaran teori dan praktik, peserta memperoleh pengetahuan mengenai peluang bisnis sekaligus pengalaman mengolah berbagai produk berbahan baku ikan. Materi tersebut diharapkan dapat membantu peserta mempersiapkan pilihan kegiatan produktif setelah memasuki masa purnabakti.

Pelatihan ini juga memperkenalkan beragam bentuk pemanfaatan hasil perikanan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Mulai dari bakso ikan, siomay, kaki naga, takoyaki, nugget ikan patin, hingga produk tambahan berupa jus rumput laut, seluruhnya menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta.

P2MKP Mina Raya Gelar Pelatihan Pemijahan Ikan Bawal

 

 

Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo bersama Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Raya menyelenggarakan pelatihan perikanan dengan fokus pada pelatihan ikan air tawar jenis bawal. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Padukuhan Kaliwaru, Kalasan. Wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan perikanan sekaligus tempat budi daya berbagai jenis ikan air tawar.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi perikanan yang dimiliki masyarakat Kelurahan Sardonoharjo. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pemijahan ikan bawal, mulai dari pemahaman karakteristik ikan hingga praktik pembenihan.

Baca Selanjutnya : P2MKP Karya Lestari Latih Pegawai Olah Frozen Food

Dorong Pengembangan Potensi Perikanan Masyarakat

Dalam sambutannya, Lurah Sardonoharjo yang diwakili oleh Ulu-Ulu Kelurahan Sardonoharjo menyampaikan bahwa pelatihan tersebut diselenggarakan dengan mempertimbangkan potensi perikanan yang masih besar di wilayah Sardonoharjo. Selain itu, peluang pasar ikan bawal dinilai masih cukup baik sehingga dapat dikembangkan sebagai salah satu kegiatan usaha masyarakat.

Menurut perwakilan pemerintah kelurahan, pengembangan budidaya ikan bawal memiliki peluang untuk mendukung peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan teknis agar kelompok pembudidaya dapat mengelola kegiatan perikanan secara lebih terarah.

Penyelenggaraan pelatihan juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo dalam mendukung ketahanan pangan. Hasil perikanan dapat menjadi salah satu sumber pangan yang menyediakan kandungan gizi bagi masyarakat. Dengan demikian, pengembangan sektor perikanan diharapkan turut mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Selain ketahanan pangan, kegiatan ini juga dikaitkan dengan upaya mengurangi stunting melalui pemanfaatan gizi yang berasal dari hasil perikanan. Di sisi lain, pengembangan usaha budi daya ikan diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat Sardonoharjo.

Melalui pelatihan tersebut, pemerintah kelurahan mendorong kelompok tani ikan agar dapat memanfaatkan potensi yang tersedia. Pengetahuan mengenai teknik pemijahan dan pembenihan menjadi salah satu bekal penting bagi peserta untuk mengembangkan kegiatan budi daya di kelompok masing-masing.

P2MKP Mina Raya Berikan Materi Karakteristik Ikan Bawal

Pengelola P2MKP Mina Raya, Anjar Purnomo, bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan pelatihan. Dalam penyampaian materinya, ia menjelaskan bahwa setiap jenis ikan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembudidaya perlu memahami karakter masing-masing ikan agar dapat menerapkan cara pemeliharaan yang sesuai.

Anjar menekankan bahwa pemahaman terhadap karakteristik ikan merupakan hal mendasar dalam kegiatan budi daya. Pengetahuan tersebut diperlukan karena setiap jenis ikan memiliki kebutuhan pemeliharaan yang tidak selalu sama. Dengan mengenali karakter ikan yang dibudidayakan, peserta dapat lebih memahami faktor-faktor yang perlu diperhatikan selama proses pemeliharaan.

Dalam materi mengenai budidaya ikan bawal, peserta juga diberikan penjelasan tentang pentingnya perawatan induk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi debit air, pemberian pakan, kedalaman kolam, serta umur induk. Dalam penyampaiannya, Anjar menjelaskan bahwa induk ikan bawal sebaiknya berusia di atas empat tahun.

Perawatan induk menjadi salah satu perhatian dalam proses persiapan pemijahan. Kondisi pemeliharaan, ketersediaan pakan, dan pengelolaan kolam merupakan aspek yang perlu diperhatikan oleh pembudidaya. Materi tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai sejumlah faktor yang harus dipahami sebelum melaksanakan proses pemijahan.

Peserta Mengikuti Praktik Langsung Pemijahan Ikan Bawal

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pemijahan ikan bawal. Pada sesi ini, peserta diajak untuk melihat dan mempelajari tahapan pemijahan, mulai dari proses pembenihan dengan penyuntikan hingga mengamati hasil benih yang telah berkembang.

Praktik lapangan menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, tetapi juga berkesempatan menyaksikan proses yang berkaitan langsung dengan kegiatan pembenihan. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat mengenal tahapan pemijahan secara lebih nyata.

Kegiatan praktik ini diharapkan dapat membantu peserta memahami materi yang telah disampaikan oleh narasumber. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani ikan dalam mengembangkan usaha perikanan di wilayah masing-masing.

Sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan, tiga kelompok tani ikan yang mengikuti pelatihan juga akan memperoleh bantuan berupa peralatan lengkap untuk pemijahan serta indukan ikan bawal. Bantuan tersebut ditujukan agar masing-masing kelompok memiliki sarana pendukung untuk mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh selama kegiatan.

Pemberian peralatan pemijahan dan indukan ikan bawal diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan setelah pelatihan selesai. Dengan adanya bantuan tersebut, kelompok tani ikan memiliki dukungan awal untuk mulai mengembangkan kegiatan pemijahan dan pembenihan secara mandiri.

Melalui kerja sama antara Pemerintah Kelurahan Sardonoharjo dan P2MKP Mina Raya, pelatihan pemijahan ikan bawal ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelompok tani ikan. Pengembangan keterampilan, pemanfaatan potensi perikanan, serta dukungan peralatan menjadi bagian dari upaya mendorong kegiatan budi daya yang dapat dikelola oleh masyarakat.

Cara Daftar Pelatihan Budidaya Ikan Lele di P2MKP

 

Budidaya ikan lele menjadi salah satu pilihan kegiatan akuakultur yang dapat dipelajari sebagai bekal keterampilan dan pengembangan usaha. Seiring berkembangnya teknologi perikanan, metode budidaya terus mengalami inovasi untuk mendukung pengelolaan yang lebih efisien.

Salah satu teknologi yang dapat dipelajari adalah sistem bioflok, yaitu metode yang memanfaatkan mikroorganisme untuk membantu mengolah limbah organik di lingkungan pemeliharaan ikan. P2MKP Tunas Mina Lestari membuka program pelatihan budidaya ikan lele.

Memberikan kesempatan kepada siswa dan mahasiswa dalam mengenal teori serta praktik budidaya perikanan. Program ini dirancang untuk membantu peserta memperoleh pengetahuan yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran maupun sebagai bekal untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Pahami Lebih Lanjut : Pelatihan dan Sertifikasi Perikanan di BPPP Tegal

Mengapa Harus Mengikuti Pelatihan Budidaya Ikan Lele?

Inovasi di sektor akuakultur terus berkembang, salah satunya melalui penerapan sistem bioflok. Teknologi ini mengandalkan mikroorganisme untuk membantu mendaur ulang limbah dari sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan organik yang disebut flok. Gumpalan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alami tambahan bagi ikan.

Melalui pelatihan budidaya ikan lele, peserta berkesempatan mempelajari teknologi budidaya yang dapat mendukung efisiensi penggunaan air dan pemanfaatan lahan. Pengetahuan tersebut penting, terutama bagi calon pembudidaya yang ingin memahami alternatif pengelolaan kolam dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya.

Pelatihan ini juga bertujuan menjembatani kesenjangan antara teori akademik yang dipelajari di sekolah atau perguruan tinggi dan praktik di lapangan. Dengan mengenal kegiatan budidaya secara lebih terarah, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai keterampilan yang dibutuhkan dalam pengelolaan usaha perikanan.

Siapa Saja yang Bisa Mendaftar Pelatihan Budidaya Ikan Lele?

P2MKP Tunas Mina Lestari memahami bahwa minat terhadap kewirausahaan dan budidaya ikan tidak terbatas pada satu bidang pendidikan.

Oleh karena itu, program pelatihan ini ditujukan kepada peserta dari berbagai latar belakang pendidikan, khususnya siswa dan mahasiswa yang ingin mempelajari budidaya ikan lele. – Siswa SMK – Siswa SMA – Mahasiswa

Pelatihan budidaya ikan lele yang diselenggarakan oleh P2MKP Tunas Mina Lestari tidak dipungut biaya bagi siswa dan mahasiswa sesuai informasi program yang diberikan.

Peserta juga memperoleh fasilitas pembelajaran untuk mendukung proses belajar.

– Akses modul digital: Materi pembelajaran mencakup persiapan air kolam, pengelolaan probiotik, efisiensi pemberian pakan, hingga teknik panen yang aman. – E-sertifikat: Bukti keikutsertaan dari P2MKP yang dapat dimanfaatkan untuk melengkapi CV atau portofolio serta mendukung kebutuhan administrasi pemagangan sesuai ketentuan pihak terkait. – Pengembangan keterampilan: Peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari pengetahuan teknis budidaya ikan lele yang dapat menjadi bekal dalam kegiatan pembelajaran atau rencana usaha.

Ilmu yang diperoleh juga dapat menjadi dasar untuk memahami kemungkinan budidaya ikan di lahan terbatas, termasuk pekarangan rumah. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan sarana, dan kemampuan pengelolaan masing-masing peserta.

Mendukung Ekosistem Perikanan Nasional

Edukasi mengenai budidaya ikan merupakan salah satu upaya untuk memperluas pengetahuan masyarakat tentang sektor perikanan. Pelatihan yang memberikan akses pembelajaran kepada siswa dan mahasiswa dapat membantu memperkenalkan keterampilan budidaya sekaligus mendorong minat terhadap kewirausahaan.

Program yang dijalankan P2MKP Tunas Mina Lestari sejalan dengan semangat pengembangan keterampilan dan pemanfaatan potensi perikanan budidaya.

Peserta juga disarankan untuk mempelajari informasi mengenai regulasi, data statistik, dan potensi perikanan air tawar melalui situs resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.

Jadwal dan Cara Daftar Pelatihan Budidaya Ikan Lele

Bagi siswa dan mahasiswa yang tertarik mengikuti program ini, penting untuk memperhatikan jadwal pelaksanaan serta prosedur pendaftaran. Berdasarkan informasi program yang diberikan, pelatihan dilaksanakan secara rutin dengan ketentuan berikut:

– Hari pelaksanaan: Setiap hari Kamis. – Platform pertemuan: Daring atau online. – Media pertemuan: Zoom atau Google Meet. – Biaya: Gratis bagi siswa dan mahasiswa.

Cara mendaftar pelatihan budidaya ikan lele di P2MKP Tunas Mina Lestari dilakukan melalui formulir pendaftaran yang tersedia di situs web penyelenggara. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan:

1. Buka situs web P2MKP Tunas Mina Lestari. 2. Klik tombol atau tautan pendaftaran pelatihan budidaya ikan lele. 3. Isi formulir pendaftaran menggunakan data identitas diri yang valid. 4. Pastikan alamat email dan nomor WhatsApp yang dicantumkan masih aktif. 5. Periksa informasi lanjutan dari tim admin melalui kontak yang telah didaftarkan, termasuk informasi grup WhatsApp, tautan pertemuan, dan akses modul pembelajaran.

Pastikan seluruh data diisi dengan benar agar komunikasi terkait pelatihan dapat berjalan dengan lancar. Jika informasi mengenai tautan pendaftaran atau jadwal terbaru belum tersedia, calon peserta dapat menghubungi pihak penyelenggara melalui saluran komunikasi resmi yang tercantum di situs webnya.

Pengolahan Nugget Ikan Lele di P2MKP Karya Lestari Sumenep

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Karya Lestari di Sumenep menjadi lokasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang membahas pengolahan ikan lele menjadi produk nugget. Kegiatan ini berfokus pada kendala yang dihadapi serta penerapan personal hygiene pekerja selama proses produksi nugget ikan lele dumbo.

Pengolahan ikan menjadi produk siap saji merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk perikanan. Ikan lele dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, termasuk nugget, sehingga pemanfaatannya tidak terbatas pada penjualan ikan dalam bentuk segar. Dalam proses pengolahan tersebut, kebersihan pekerja menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar tahapan produksi berjalan dengan baik.

Informasi Lebih Lanjut : Cara Daftar Pelatihan Budidaya Ikan Lele di P2MKP

Mengenal Pengolahan Nugget Ikan Lele

Nugget Ikan merupakan salah satu jenis produk beku siap saji. Produk ini dibuat dari daging yang diberi bumbu dan dicampur dengan bahan pengikat, kemudian dicetak, dikukus, dipotong, dilumuri bahan perekat tepung (batter), dan diselimuti tepung roti.

Dalam pengolahan nugget ikan lele dumbo, daging ikan menjadi bahan utama yang diolah melalui beberapa tahapan hingga membentuk produk siap diolah lebih lanjut. Penggunaan daging ikan sebagai bahan baku memungkinkan ikan diolah menjadi produk dengan bentuk dan penyajian yang berbeda dari ikan segar.

Sesuai dengan topik pengolahan ikan lele menggunakan sistem fillet, penanganan daging ikan menjadi bagian yang berkaitan dengan proses persiapan bahan baku. Tahapan pengolahan perlu dilakukan secara teratur agar proses produksi dapat berlangsung sesuai urutan kerja.

Setiap tahap produksi membutuhkan perhatian terhadap kebersihan bahan, peralatan, dan pekerja. Hal ini menjadi penting karena produk nugget melewati beberapa tahapan penanganan sebelum selesai dibuat. Oleh sebab itu, penerapan kebersihan diri perlu diperhatikan selama pekerja melakukan aktivitas pengolahan.

Pengamatan terhadap kebersihan pekerja diperlukan untuk menggambarkan kondisi penerapan praktik kebersihan selama kegiatan produksi. Dengan mengetahui praktik yang telah dilakukan dan hambatan yang muncul, aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dapat diidentifikasi dengan lebih jelas.

Kegiatan ini juga memberikan gambaran mengenai pentingnya pengetahuan pekerja dalam menerapkan kebersihan diri ketika menangani produk pangan. Penerapan kebersihan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perlengkapan kerja, tetapi juga dengan kebiasaan dan kepatuhan terhadap ketentuan kebersihan selama proses produksi.

Metode Pengumpulan Data dan Pengamatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan dan menjelaskan situasi serta kondisi objek pengamatan di lapangan. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami permasalahan yang berkaitan dengan penerapan personal hygiene pekerja dalam produksi nugget ikan lele dumbo.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara, partisipasi aktif, dan observasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi mengenai penerapan kebersihan diri dan kendala yang dihadapi pekerja. Sementara itu, observasi membantu menggambarkan praktik yang berlangsung selama proses produksi.

Selain data primer, pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi yang relevan dengan kegiatan pengamatan. Penggunaan kedua jenis data tersebut mendukung penyusunan gambaran mengenai kondisi penerapan personal hygiene di P2MKP Karya Lestari.

Melalui metode tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat mengidentifikasi praktik kebersihan yang telah diterapkan serta aspek yang masih memerlukan perhatian. Hasil pengamatan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami kebutuhan pekerja terkait penerapan kebersihan dalam proses pengolahan nugget ikan lele.

Penerapan Personal Hygiene dalam Proses Produksi

Personal hygiene merupakan praktik menjaga kebersihan diri ketika melakukan pekerjaan, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengolahan pangan. Penerapan praktik ini perlu diperhatikan karena pekerja berhubungan langsung dengan bahan baku, peralatan, dan produk selama proses produksi.

Dalam kegiatan di P2MKP Karya Lestari, aspek penerapan personal hygiene yang diperhatikan meliputi penggunaan pakaian tertutup, penggunaan sarung tangan sesuai standar, pemeliharaan kesehatan dan keselamatan pekerja, serta larangan menggunakan peralatan pribadi berbahan logam.

Penggunaan pakaian tertutup merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap kebersihan selama bekerja. Sementara itu, penggunaan sarung tangan sesuai standar menjadi bagian dari perlengkapan yang perlu diperhatikan ketika pekerja menangani bahan pangan. Penerapannya perlu disesuaikan dengan ketentuan kerja yang berlaku.

Selain itu, kesehatan dan keselamatan pekerja juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan kegiatan produksi. Pekerja perlu memahami ketentuan kebersihan dan keselamatan agar dapat menjalankan tugas sesuai prosedur. Pelarangan penggunaan peralatan pribadi berbahan logam juga termasuk hal yang diperhatikan dalam penerapan aturan kerja di lingkungan produksi.

Berdasarkan uraian kegiatan, salah satu kendala yang ditemukan adalah belum meratanya pengetahuan pekerja mengenai personal hygiene. Sebagian pekerja belum mendapatkan fasilitas pelatihan mengenai kebersihan diri secara menyeluruh.

Kondisi tersebut menjadi hambatan karena pemahaman pekerja merupakan salah satu aspek yang mendukung penerapan praktik kebersihan secara konsisten. Ketika pengetahuan belum merata, pemahaman terhadap ketentuan dan kebiasaan kerja yang perlu diterapkan juga berpotensi berbeda antara satu pekerja dan pekerja lainnya.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai personal hygiene perlu menjadi perhatian dalam kegiatan pengolahan nugget ikan lele. Pelatihan yang menyeluruh dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu pekerja memahami praktik kebersihan yang diperlukan dalam proses produksi.

Satpolairud Pati Amankan Praktik Melaut 67 Siswa P2MKP LKNP

 

Satpolairud Polresta Pati melaksanakan pengamanan kegiatan praktik melaut bagi siswa Lembaga Kemaritiman Nelayan Pati (LKNP) yang berada di bawah naungan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) di Muara Sungai Juwana, Kabupaten Pati, Selasa (6/1/2026). Pengamanan ini merupakan bentuk dukungan Polri terhadap kegiatan pendidikan dan pelatihan kemaritiman guna memastikan keselamatan peserta selama beraktivitas di wilayah perairan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran keterampilan dasar melaut bagi para siswa. Melalui praktik secara langsung di perairan, peserta mendapatkan kesempatan untuk menerapkan materi pelatihan, termasuk teknik menebar jaring. Dalam pelaksanaannya, faktor keamanan dan keselamatan menjadi perhatian utama agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan tertib dan lancar.

Baca Selengkapnya : Pengolahan Nugget Ikan Lele di P2MKP Karya Lestari Sumenep

67 Siswa P2MKP LKNP Ikuti Praktik Melaut

Kegiatan praktik melaut tersebut diikuti sebanyak 67 siswa P2MKP LKNP yang dibagi dalam dua kloter latihan. Para peserta merupakan siswa pelatihan nelayan pada LPKS Lembaga Kemaritiman Nelayan Pati yang telah memiliki legalitas sebagai P2MKP, sesuai ketentuan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dalam praktik tersebut, para siswa melaksanakan latihan tebar jaring sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran keterampilan dasar melaut. Kegiatan ini memberikan pengalaman praktik kepada peserta dalam menjalankan salah satu aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan nelayan.

Pelaksanaan latihan dibagi menjadi dua kloter untuk mengatur jalannya kegiatan. Pembagian tersebut juga menjadi bagian dari pengaturan peserta selama praktik berlangsung di kawasan perairan Muara Sungai Juwana, Kabupaten Pati.

Selama kegiatan berlangsung, Satpolairud Polresta Pati menerjunkan personel beserta sarana pendukung untuk menjamin keamanan, keselamatan, serta kelancaran jalannya latihan praktik. Kehadiran petugas di lokasi menjadi bentuk pengawasan terhadap kegiatan pendidikan dan pelatihan kemaritiman yang dilaksanakan di wilayah perairan.

Satpolairud Polresta Pati Lakukan Pengamanan

Kapolresta Pati melalui Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, mengatakan bahwa pengamanan dilakukan secara menyeluruh sejak tahap persiapan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.

Menurut Kompol Hendrik, aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam kegiatan tersebut. Seluruh siswa diwajibkan menggunakan alat keselamatan berupa life jacket, serta mematuhi arahan instruktur LKNP dan petugas pengamanan selama berada di atas perahu maupun saat praktik di perairan.

Penggunaan alat keselamatan dan kepatuhan terhadap arahan petugas merupakan bagian penting dalam pelaksanaan praktik melaut. Dengan adanya pendampingan instruktur serta pengawasan personel Satpolairud, kegiatan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan prosedur keselamatan yang berlaku selama latihan.

Pengamanan juga dilakukan untuk mendukung kelancaran kegiatan, sehingga para siswa dapat mengikuti latihan sesuai dengan pembagian waktu dan arahan yang diberikan oleh instruktur.

Praktik Melaut Dilaksanakan dalam Dua Kloter

Latihan kloter pertama dimulai pada pukul 08.45 WIB dengan jumlah 30 siswa. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan kloter kedua pada pukul 11.45 WIB yang diikuti sebanyak 27 siswa.

Seluruh peserta mendapatkan pendampingan langsung dari instruktur P2MKP LKNP serta pengawasan aktif personel Satpolairud yang juga memberikan imbauan keselamatan secara berkala. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan peserta mengikuti arahan selama menjalankan praktik di perairan.

Pembagian waktu latihan menjadi dua kloter merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan yang diikuti oleh seluruh peserta. Selama praktik berlangsung, pengawasan petugas dan pendampingan instruktur tetap menjadi unsur penting dalam menjaga keamanan kegiatan.

Kompol Hendrik menambahkan bahwa faktor cuaca dan kondisi perairan turut menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan latihan.

Cuaca saat kegiatan berlangsung dalam kondisi mendung, namun gelombang relatif landai sehingga masih aman untuk pelaksanaan praktik melaut,” ungkapnya.

Kondisi cuaca dan perairan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam kegiatan praktik di laut. Pertimbangan tersebut diperlukan untuk mendukung pelaksanaan latihan agar tetap memperhatikan keselamatan seluruh peserta yang terlibat.

Polri Dukung Pendidikan dan Pelatihan Kemaritiman

Kompol Hendrik menegaskan bahwa kehadiran Polri dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan kemaritiman merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengamanan kegiatan praktik melaut agar dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.

Pengamanan kegiatan praktik melaut siswa P2MKP LKNP menjadi bentuk dukungan terhadap proses pelatihan calon nelayan. Selain mempelajari keterampilan dasar melaut, peserta juga perlu memperhatikan keselamatan ketika menjalankan aktivitas di wilayah perairan.

Melalui kegiatan ini, pengawasan dan pendampingan selama praktik menjadi bagian dari upaya mendukung pelaksanaan pendidikan kemaritiman. Koordinasi antara instruktur dan petugas pengamanan turut menunjang kelancaran kegiatan yang melibatkan puluhan siswa tersebut.

Menutup keterangannya, Kompol Hendrik memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Pelaksanaan praktik melaut di Muara Sungai Juwana, Kabupaten Pati, tersebut diikuti 67 siswa P2MKP LKNP dalam dua kloter latihan. Dengan pengamanan dari Satpolairud Polresta Pati, kegiatan pendidikan dan pelatihan kemaritiman itu dapat diselesaikan dengan aman, dengan tetap mengutamakan keselamatan peserta selama beraktivitas di perairan.

Monitoring Kualitas Air Berbasis IoT untuk Budidaya Ikan Baung

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Merupakan lembaga yang berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan berfokus pada pengembangan budi daya ikan baung. Sejak didirikan pada tahun 2011, P2MKP telah menjalankan program pelatihan bagi masyarakat, khususnya para pembudi daya ikan di Kabupaten Kampar, untuk meningkatkan keterampilan dalam penerapan teknologi budi daya yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan pembibitan ikan baung, kualitas air menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan. Kondisi air yang sesuai dapat mendukung proses pemeliharaan dan perkembangan ikan selama tahap pembibitan. Oleh karena itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara teratur agar kondisi kolam tetap terjaga dan proses budi daya dapat berjalan dengan baik.

Pelajari Selengkapnya : Satpolairud Pati Amankan Praktik Melaut 67 Siswa P2MKP LKNP

Tantangan Pemantauan Kualitas Air

Pengukuran kualitas air di P2MKP saat ini masih dilakukan secara manual menggunakan metode tradisional, seperti kertas indikator untuk mengukur pH, suhu, dan kejernihan air. Metode tersebut membutuhkan waktu dan keterampilan dalam proses pengukuran maupun pembacaan hasilnya.

Pemantauan secara manual juga memiliki keterbatasan karena pemeriksaan perlu dilakukan secara langsung. Apabila pengukuran tidak dilaksanakan secara teratur, perubahan kondisi air berpotensi terlambat diketahui. Kesalahan interpretasi hasil pengukuran juga dapat memengaruhi pengambilan keputusan dalam pengelolaan kolam pembibitan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penerapan metode pemantauan yang lebih praktis dan efisien. Dengan dukungan teknologi, proses pengukuran kualitas air dapat dilakukan secara lebih terstruktur sehingga petugas memiliki informasi yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pemeliharaan ikan baung.

Penerapan Sistem Monitoring Kualitas Air Berbasis IoT

Untuk memperbaiki proses pemantauan tersebut, program pengabdian kepada masyarakat mengembangkan sistem monitoring kualitas air berbasis IoT (Internet of Things). Teknologi ini memungkinkan perangkat sensor mengumpulkan informasi mengenai kondisi lingkungan, kemudian menyampaikan data tersebut melalui sistem yang terhubung.

Dalam penerapannya di P2MKP, sistem monitoring menggunakan sensor untuk memantau sejumlah parameter penting, yaitu suhu, pH, dan kekeruhan air. Ketiga parameter tersebut menjadi bagian dari informasi yang dapat digunakan untuk membantu petugas mengetahui kondisi air pada kolam pembibitan ikan baung.

Suhu air perlu dipantau karena berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat ikan dipelihara. Sementara itu, nilai pH memberikan informasi mengenai tingkat keasaman atau kebasaan air. Adapun kekeruhan air dapat menjadi indikator kondisi fisik air yang perlu diperhatikan selama kegiatan budi daya.

Melalui sistem berbasis IoT, pengumpulan informasi tersebut dapat dilakukan dengan dukungan perangkat sensor. Dengan demikian, pemantauan tidak hanya bergantung pada pemeriksaan manual, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk membantu menyediakan informasi kondisi air secara lebih praktis.

Akses Data melalui Aplikasi Mobile dan Dasbor Berbasis Web

Salah satu keunggulan sistem monitoring kualitas air berbasis IoT adalah kemudahan dalam mengakses informasi. Data yang diperoleh dari sensor dapat diakses melalui aplikasi mobile atau dasbor berbasis web. Fasilitas ini memungkinkan petugas P2MKP memantau kondisi air tanpa harus selalu melakukan pemeriksaan secara langsung menggunakan metode tradisional.

Ketersediaan informasi melalui perangkat digital dapat membantu petugas mengikuti perubahan kondisi air dan memperoleh gambaran yang lebih terstruktur mengenai keadaan kolam. Informasi tersebut juga dapat mendukung proses pencatatan hasil pemantauan sehingga pengelolaan kualitas air dapat dilakukan dengan lebih terarah.

Selain mempermudah akses informasi, penggunaan aplikasi dan dasbor digital dapat membantu menyederhanakan proses pemantauan. Petugas dapat memanfaatkan data yang tersedia sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tindakan pengelolaan kolam sesuai dengan kondisi yang teramati.

Meskipun demikian, hasil pemantauan tetap perlu dipahami berdasarkan kebutuhan pembibitan ikan baung. Data sensor berfungsi sebagai sumber informasi pendukung, sedangkan keputusan pengelolaan kolam perlu mempertimbangkan kondisi aktual dan pengetahuan petugas mengenai kegiatan budi daya.

Manfaat Sistem Monitoring IoT bagi Pengelolaan Kolam

Penerapan sistem monitoring kualitas air berbasis IoT berpotensi meningkatkan akurasi dan efisiensi pengelolaan kolam pembibitan ikan baung. Pemanfaatan sensor dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pengukuran manual serta mempermudah pengumpulan informasi mengenai parameter kualitas air.

Pemantauan suhu, pH, dan kekeruhan secara real-time juga memberikan peluang bagi petugas untuk mengetahui kondisi air dengan lebih cepat. Informasi yang tersedia dapat digunakan untuk mendukung evaluasi kondisi kolam dan membantu menentukan langkah pemeliharaan yang sesuai.

Di samping itu, kemudahan akses melalui aplikasi mobile dan dasbor berbasis web mendukung fleksibilitas dalam pemantauan. Petugas dapat melihat informasi yang dibutuhkan melalui perangkat digital sehingga proses pengelolaan kolam menjadi lebih praktis.

Agar manfaat tersebut dapat diperoleh secara optimal, penggunaan sistem perlu disertai pemeliharaan perangkat, pemeriksaan fungsi sensor, dan pengelolaan data yang baik. Langkah tersebut penting untuk menjaga agar informasi yang dihasilkan tetap dapat digunakan sebagai dasar pendukung pemantauan kualitas air.

Pengembangan sistem monitoring kualitas air berbasis IoT di P2MKP merupakan salah satu upaya pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan budi daya perikanan. Inovasi ini mendukung peningkatan keterampilan masyarakat, khususnya para pembudi daya ikan di Kabupaten Kampar, dalam mengenal dan menerapkan teknologi untuk menunjang kegiatan pembibitan.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, penerapan teknologi tidak hanya diarahkan pada penggunaan perangkat, tetapi juga pada peningkatan kemampuan petugas dalam memanfaatkan informasi untuk mendukung pengelolaan kolam. Pemahaman mengenai parameter kualitas air dan cara membaca data menjadi bagian penting dalam penggunaan sistem secara tepat.

Dengan adanya sistem monitoring berbasis IoT, proses pemantauan kualitas air di P2MKP diharapkan menjadi lebih efektif, efisien, dan terstruktur. Pemanfaatan teknologi ini dapat mendukung pengelolaan kolam pembibitan ikan baung sekaligus menjadi bagian dari pengembangan praktik budi daya yang berkelanjutan.

Pelatihan dan Sertifikasi Perikanan di BPPP Tegal

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) terus meningkatkan pelayanan di bidang pelatihan dan sertifikasi dalam rangka mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung peningkatan keterampilan masyarakat, khususnya dalam bidang kelautan dan perikanan. Salah satu bentuk pelaksanaannya adalah melalui Badan Layanan Umum (BLU) Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal, Jawa Tengah.

Peningkatan kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan kompetensi masyarakat di sektor kelautan dan perikanan. Melalui pelatihan dan sertifikasi, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang sesuai dengan bidang usaha dan pekerjaan yang dijalankan.

Baca Juga : Monitoring Kualitas Air Berbasis IoT untuk Budidaya Ikan Baung

Peningkatan Pelayanan Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Peningkatan pelayanan yang dimaksud berupa penyediaan barang atau jasa tanpa mengutamakan pencarian keuntungan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Prinsip ini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat agar kebutuhan pelatihan dapat dipenuhi secara efektif.

Pelatihan perikanan dilaksanakan oleh enam balai yang bermitra dengan 263 Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) di berbagai daerah. Selain itu, sebanyak 6.462 penyuluh telah diterjunkan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Peningkatan pelayanan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara lembaga pelatihan dan masyarakat. Dengan dukungan pelatihan yang sesuai kebutuhan, masyarakat dapat meningkatkan pemahaman mengenai bidang usaha yang dijalankan serta mengembangkan keterampilan yang diperlukan.

BPPP Tegal sebagai Balai Pelatihan Perikanan

BPPP Tegal merupakan balai pelatihan perikanan tertua di Indonesia. Balai ini menyelenggarakan pelatihan dalam berbagai bidang, meliputi penangkapan ikan, permesinan, budi daya, pengolahan perikanan, serta kepelautan dan pergaraman.

Ragam bidang pelatihan tersebut menunjukkan cakupan kegiatan yang mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia di sektor kelautan dan perikanan. Setiap bidang memiliki kebutuhan keterampilan yang berbeda sehingga penyelenggaraan pelatihan perlu memperhatikan karakteristik pekerjaan dan kegiatan usaha yang menjadi sasaran.

Pelatihan di bidang penangkapan ikan berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam kegiatan penangkapan. Sementara itu, bidang permesinan, budi daya, dan pengolahan perikanan mendukung kebutuhan kompetensi yang berbeda sesuai dengan kegiatan masing-masing. Pelatihan kepelautan dan pergaraman juga menjadi bagian dari cakupan layanan yang diselenggarakan BPPP Tegal.

Wilayah kerja BPPP Tegal mencakup pelaku usaha dalam berbagai bidang perikanan. Jumlah pelaku usaha di bidang budi daya perikanan tercatat sebanyak 375.000 orang, sedangkan pelaku usaha di bidang pengolahan perikanan berjumlah lebih dari satu juta orang.

Selain itu, terdapat 375.000 orang di bidang permesinan perikanan. Untuk mendukung pendampingan kepada masyarakat dan pelaku usaha tersebut, terdapat 606 orang yang bertugas sebagai penyuluh.

Data tersebut menggambarkan luasnya cakupan masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan perikanan di wilayah kerja BPPP Tegal. Keberadaan penyuluh menjadi bagian penting dalam mendampingi masyarakat pelaku usaha, termasuk dalam mendukung penyebaran informasi dan pengetahuan yang relevan dengan kegiatan mereka.

Pengembangan Pelatihan untuk Meningkatkan Kompetensi SDM

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pelatihan-pelatihan lainnya akan terus dikembangkan. Upaya ini menjadi bagian dari langkah untuk memperluas layanan pelatihan sekaligus mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Dalam proses pengembangan empat pelatihan tersebut, terdapat keterlibatan Kementerian Perhubungan. Apabila disetujui, BPPP Tegal akan menjadi unit kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan pertama yang menyelenggarakan pelatihan tersebut.

Rencana pengembangan pelatihan ini menunjukkan adanya upaya untuk memperluas jenis layanan yang dapat diberikan kepada masyarakat. Pelaksanaan pelatihan tetap memerlukan proses sesuai ketentuan dan persetujuan yang berlaku.

Sebagai informasi, BPPP Tegal ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum (BLU) pada hari Rabu berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 526/KMK.05/2021.

BLU merupakan instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam penyelenggaraannya, BLU berorientasi pada peningkatan pelayanan dengan menerapkan prinsip efisiensi dan produktivitas tanpa mengutamakan pencarian keuntungan.

Keberadaan BLU bertujuan untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam konteks BPPP Tegal, status tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan pelayanan di bidang pelatihan dan penyuluhan perikanan.

Melalui peningkatan pelayanan, pengembangan program pelatihan, serta kerja sama dengan berbagai pihak, upaya mencetak sumber daya manusia unggul di sektor kelautan dan perikanan dapat terus didukung. Peran BPPP Tegal bersama P2MKP dan para penyuluh menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan dan peningkatan keterampilan.